Kamis, Desember 15, 2011

Ali bin Abi Thalib

Nama dan Nasab beliau:

Nama Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Abu Thalib adalah

saudara kandung Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah baginda Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi Ali bin Abi Thalib adalah saudara sepupu Nabi

shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau dijuluki Abul Hasan dan Abu Turab.

Semenjak kecil beliau hidup diasuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi

wasallam, karena ayahnya terlalu banyak beban dan tugas yang sangat banyak

dan juga banyak keluarga yang harus dinafkahi, sedangkan Abu Thalib hanya

memiliki sedikit harta semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih

anak-anak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengasuhnya sebagai balas budi

terhadap pamannya, Abu Thalib yang telah mengasuh beliau ketika beliau

tidak punya bapak dan ibu serta kehilangan kakek tercintanya, Abdul

Muththalib.

Ali bin Abi Thalib masuk Islam:

Mayoritas ahli sejarah Islam menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib

radhiyallahu ‘anhu adalah orang kedua yang masuk Islam setelah Khadijah

radhiyallahu ‘anha , di mana usia beliau saat itu masih berkisar antara 10 dan

11 tahun. Ini adalah suatu kehormatan dan kemuliaan bagi beliau, di mana

beliau hidup bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan terdepan

memeluk Islam. Bahkan beliau adalah orang pertama yang melakukan shalat

berjamaah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana

ditulis oleh al-Askari (penulis kitab al-Awa `il).

Sifat fisik dan kepribadian beliau:

Beliau adalah sosok yang memiliki tubuh yang kekar dan lebar, padat berisi

dengan postur tubuh yang tidak tinggi, perut besar, warna kulit sawo matang,

berjenggot tebal berwarna putih seperti kapas, kedua matanya sangat tajam,

murah senyum, berwajah tam-pan, dan memiliki gigi yang bagus, dan bila

berjalan sangat cepat.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah sosok manusia yang hidup zuhud

dan sederhana, memakai pakaian seadanya dan tidak terikat dengan corak

atau warna tertentu. Pakaian beliau berbentuk sarung yang tersimpul di atas

pusat dan menggantung sampai setengah betis, dan pada bagian atas tubuh

beliau adalah rida’ (selendang) dan bahkan pakaian bagian atas beliau

bertambal. Beliau juga selalu mengenakan kopiah putih buatan Mesir yang

dililit dengan surban.

Ali bin Abi Thalib juga suka memasuki pasar, menyuruh para pedagang

bertakwa kepada Allah dan menjual dengan cara yang ma`ruf.

Beliau menikahi Fatimah az-Zahra putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

dan dikarunia dua orang putra, yaitu al-Hasan dan al-Husain .

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah sosok pejuang yang pemberani

dan heroik, pantang mundur, tidak pernah takut mati dalam membela dan

menegakkan kebenaran. Keberanian beliau dicatat di dalam sejarah, sebagai

berikut:

a) Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin berhijrah ke Madinah

pada saat rumah beliau dikepung di malam hari oleh sekelompok pemuda

dari berbagai utusan kabilah Arab untuk membunuh Nabi, Nabi menyuruh Ali

bin Abi Thalib shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di tempat tidur beliau dengan

mengenakan selimut milik beliau. Di sini Ali bin Abi Thalib benar-benar

mempertaruhkan nyawanya demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

dengan penuh tawakal kepada Allah Ta’ala.

Keesokan harinya, Ali disuruh menunjukkan keberadaan Nabi shallallahu

‘alaihi wasallam, namun beliau menjawab tidak tahu, karena beliau hanya

disuruh untuk tidur di tempat tidurnya. Lalu beliau disiksa dan digiring ke

Masjidil Haram dan di situ beliau ditahan beberapa saat, lalu dilepas.

b) Beliau kemudian pergi berhijrah ke Madinah dengan berjalan kaki

sendirian, menempuh jarak yang sangat jauh tanpa alas kaki, sehingga kedua

kakinya bengkak dan penuh luka- luka setibanya di Madinah.

c) Ali bin Abi Thalib terlibat dalam semua peperangan di masa Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wasallam, selain perang Tabuk, karena saat itu beliau

ditugasi menjaga kota Madinah. Di dalam peperangan- peperangan tersebut

beliau sering kali ditugasi melakukan perang tanding (duel) sebelum

peperangan sesungguhnya dimulai. Dan semua musuh beliau berhasil

dilumpuhkan dan tewas. Dan beliau juga menjadi pemegang panji Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wasallam.

Keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiayallahu ‘anhu:

Keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sangat banyak sekali. Selain

yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi keutamaan dan keistimewaan

beliau. Berikut ini di antaranya:

-Ali adalah manusia yang benar-benar dicintai Allah dan RasulNya.

Pada waktu perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Bendera ini sungguh akan saya berikan kepada seseorang yang Allah

memberikan kemenangan melalui dia, dia mencintai Allah dan RasulNya, dan

dia dicintai Allah dan RasulNya.” Maka pada malam harinya, para sahabat

ribut membicarakan siapa di antara mereka yang akan mendapat kehormatan

membawa bendera tersebut. Dan keesokan harinya para sahabat datang

menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, masing-masing berharap

diserahi bendera. Namun beliau bersabda, “Mana Ali bin Abi Thalib?” Mereka

menjawab, “Matanya sakit, ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah menyuruh untuk

menjemputnya dan Ali pun datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

menyemburkan ludahnya kepada kedua mata Ali dan mendoakannya. Dan Ali

pun sembuh seakan- akan tidak pernah terkena penyakit. Lalu beliau

memberikan bendera kepadanya. Ali berkata, “Ya Rasulullah, aku memerangi

mereka hingga mereka menjadi seperti kita.” Beliau menjawab, “Majulah

dengan tenang sampai kamu tiba di tempat mereka, kemudian ajaklah

mereka masuk Islam dan sampaikan kepada mereka hak-hak Allah yang wajib

mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada

seorang manusia melalui dirimu, sungguh lebih baik bagimu dari pada unta-

unta merah.” (HR. Muslim, no. 2406).

-Jiwa juang Ali sangat melekat di dalam kalbunya, sehingga ketika Rasulullah

ingin berangkat pada perang Tabuk dan memerintah Ali agar menjaga

Madinah, Ali merasa keberatan sehingga mengatakan, “Apakah engkau

meninggalkan aku bersama kaum perempuan dan anak-anak?”

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru menunjukkan kedudukan

Ali yang sangat tinggi seraya bersabda, “Apakah engkau tidak ridha kalau

kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak

ada kenabian sesudahku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

-Beliau juga adalah salah satu dari sepuluh orang yang telah mendapat

“busyra biljannah” (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana

dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-

Mustadrak.

-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyatakan kepada Ali radhiyallahu

‘anhu, “bahwa tidak ada yang mencintainya kecuali seorang Mukmin dan tidak

ada yang membencinya, kecuali orang munafik.” (HR. Muslim)

-Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda kepada Ali

radhiyallahu ‘anhu,

َﺖْﻧَﺃ ْﻲِّﻨِﻣ َﻚْﻨِﻣ ﺎَﻧَﺃَﻭ .

“Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu .” (HR. al-

Bukhari).

-Beliau juga sangat dikenal dengan kepandaian dan ketepatan dalam

memecahkan berbagai masalah yang sangat rumit sekalipun, dan beliau juga

seorang yang memiliki `abqariyah qadha’ iyah (kejeniusan dalam pemecahan

ketetapan hukum) dan dikenal sangat dalam ilmunya. (Lihat: Aqidah

Ahlussunnah fi ash-Shahabah , jilid I, halaman 283).

Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah:

Ketika Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah keempat, situasi dan

suasana kota Madinah sangat mencekam, dikuasai oleh para pemberontak

yang telah menodai tanah suci Madinah dengan melakukan pembunuhan

secara keji terhadap Khalifah ketiga, Uts- man bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.

Ali bin Abi Thalib dalam pemerintahannya benar-benar menghadapi dilema

besar yang sangat rumit, yaitu:

1) Kaum pemberontak yang jumlahnya sangat banyak dan menguasai

Madinah.

2) Terbentuknya kubu penuntut penegakan hukum terhadap para

pemberontak yang telah membunuh Utsman bin ‘Affan, yang kemudian

melahirkan perang saudara, perang Jamal dan Shiffin.

3) Kaum Khawarij yang dahulunya adalah para pendukung dan pembela

beliau kemudian berbalik memerangi beliau.

Namun dengan kearifan dan kejeniusan beliau dalam menyikapi berbagai

situasi dan mengambil keputusan, beliau dapat mengakhiri pertumpahan

darah itu melalui albitrasi (tahkim) , sekalipun umat Islam pada saat itu masih

belum bersatu secara penuh.

Abdurrahman bin Muljam, salah seorang pentolan Khawarij memendam api

kebencian terhadap Ali bin Abi Thalib, karena dianggap telah menghabisi

rekan-rekannya yang seakidah, yaitu kaum Khawarij di Nahrawan. Maka dari

itu ia melakukan makar bersama dua orang rekannya yang lain, yaitu al-Barak

bin Abdullah dan Amr bin Bakar at-Tamimi , untuk menghabisi Ali, Mu’awiyah

dan Amr bin al- ’Ash, karena dia anggap sebagai biang keladi pertumpahan

darah.

Al-Barak dan Amr gagal membunuh Mu’awiyah dan Amr bin al-’ Ash,

sedangkan Ibnu Muljam berhasil mendaratkan pedangnya di kepala Amirul

Mukminin, Ali bin Abi Thalib, pada dini hari Jum’at, 17 Ramadhan, tahun 40 H.

dan beliau wafat keesokan hari- nya.


Published with Blogger-droid v2.0.2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar