Selasa, November 29, 2011

Jangan Takut Miskin

“Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka

janganlah kamu meminta agar disegerakan

(datang)nya .” (QS. An-Nahl : 1)

Jangan pernah mendahului sesuatu yang

belum terjadi! Apakah Anda mau

mengeluarkan kandungan sebelum waktunya

dilahirkan, atau memetik buah-buahan

sebelum masak?

Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata

dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak

memiliki rasa dan warna. Jika demikian,

mengapa kita harus menyibukkan diri dengan

hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan

yang mungkin akan terjadi padanya,

memikirkan kejadian- kejadian yang akan

menimpanya, dan meramalkan bencana-

bencana yang bakal ada di dalamnya?

Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita

akan bertemu dengannya atau tidak, dan

apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan?

Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun kebumi. Maka,

tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai di

atasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada

jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan

itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu

sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada

jembatan itu dan kemudian menyeberanginya.

Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa

depan dan membuka- buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam

kecemasan- kecemasan yang baru di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak

dibenarkan.

Pasalnya, hal itu termasuk thulul amal (angan- angan yang terlalu jauh). Secara

nalar, tindakan itu pun tak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha

perang melawan bayang-bayang . Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini

justru banyak yang termakan oleh ramalan- ramalan tentang kelaparan,

kemiskinan, wabah penyakit dan prediksi perekonomian yang kabarnya akan

menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang

diajarkan di “sekolah- sekolah setan”.

“Setan menjanjikan (menakut- nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh

kamu berbuat kejahatan (kikir) , sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan

daripada- Nya dan karunia”. (QS. Al-Baqarah : 268)

Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri

mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan

memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang

sadar bahwa usia hidupnya berada di ‘genggaman yang lain’ tentu tidak akan

menggadaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu

kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu

yang belum ada dan tak berwujud.

Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan

kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab,

hari ini Anda sudah sangat sibuk.

Jika Anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani

menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit didalamnya

dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan-angan yang

berlebihan.

***

Dikutip dari buku La Tahzan

Catatan kaki:

1. Membaca dan mempercayai ramalan, seperti zodiac, ramalan mama loren dan

lain-lain adalah haram hukumnya. Jika anda bersikeras melakukannya,

percayalah anda hanya akan “menganiaya” diri sendiri! (tanpa seijinNya)

MALAIKAT MAUT SAJA TIDAK TAHU SIAPA YANG BAKAL MATI ESOK HARI!

2. Janganlah terlalu merisaukan cobaan yang sedang atau akan anda hadapi. Jika

anda mengingat- ingat cobaan yang telah lalu, Allah SWT selalu memberikan

jalan keluar bagi hamba- hambaNya. Jangankan terhadap orang-orang yang

beriman dan mau mengambil hikmah, terhadap orang-orang kafir yang durhaka

sekalipun Allah SWT tetap memberikan rezeki.

3. Allah SWT selalu bersama-sama orang yang sabar.

Published with Blogger-droid v2.0.1

Bukti Tawasul Nabi Nuh Kepada Rasulullah

Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli- ahli Rusia melakukan

penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan

sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka

menemukan beberapa potong kayu di daerah tersebut berserakan.

Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk

menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika

menemukan kumpulan potongan- potongan kayu tertimbun di situ. Salah

seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya,

bahwa kayu- kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia

yang sangat besar di dalamnya.

Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka

menemukan cukup banyak potongan- potongan kayu di daerah penggalian

tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat

menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk

persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang

berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik

dibandingkan potongan- potongan kayu yang lain. Setelah waktu penelitian yang

memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil

kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera

Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan

(pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno,

merupakan bagian dari bahtera tersebut.

Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari

bahtera Nabi Nuh a.s ., timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera

di potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar

dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk

mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya

pada tanggal 27 Februari 1953. Berikut adalah nama- nama dari anggota dewan

tersebut:

1. Prof. Solomon, Universitas Moskow

2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China

3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil

4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College

5. Prof. De Pakan, Institut Lenin

6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen

7. Mayor Cottor, Stalin College

Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan

bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama

dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s .,

dan bahwa Nabi Nuh a.s . telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi

keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.

Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang

berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa

Saamaani. Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah

menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:

“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari

dzatMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena

mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka

maka tolonglah aku demi nama mereka.”

Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama

yang membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut

setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak

sedikitpun. Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapih di Pusat

Penelitian Fosil Moskow di Rusia.

Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka

mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan

keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s .

Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:

1. Weekly – Mirror, Inggris 28Desember 1953

2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954

3. Manchester Sunlight, 23Januari 1954

4. London Weekly Mirror, 1Februari 1954

5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954

6. Al-Huda , Kairo 31 Maret 1954

7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969

***

Sumber: email teman


Published with Blogger-droid v2.0.1

Berbuat Kebaikan Terhadap Orang Tua Yang Meninggal Dalam Keadaan Kufur

Amal kebaikan seperti istighfar, sedekah dan lain-lain dari seorang anak yang

muslim yang ditujukan untuk kedua orang tuanya yang meninggal dalam

keadaan kufur, sedikitpun tidak akan memberikan manfaat kepadanya. Alasannya

adalah dalil- dalil berikut ini:

a. Dalam Al-Qur 'an Allah Swt. telah berfirman:

"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan

ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik

itu adalah kaum kerabat (nya) , sudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang

musyrik itu adalah penghuni neraka." (QS At-Taubah: 113)

Berkaitan dengan ayat ini, Syeikh Nawawi dalam kitab tafsirnya mengemukakan

keterangan sebagai berikut:

Adapun sebab turunnya ayat ini adalah karena banyak orang yang memintakan

ampun bagi bapak-bapaknya yang telah meninggal dalam keadaan kufur. (Kitab

At-Tafsirul Munir , Juz I, halaman 357)

Lebih jelas lagi, Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata:

Berkaitan dengan ayat ini, Imam Qatadah telah berkata, "Telah diceritakan

kepada kami bahwa ada beberapa orang sahabat Nabi Saw. yang bertanya

kepada Nabi. 'Hai Nabiyullah, bahwasanya diantara bapak-bapak kami itu ada

orang yang baik sesama tetangga, suka bersilaturahmi, rajin membantu orang

susah, dan senantiasa menepati janji. Apakah tidak sepantasnya kami mintakan

ampun bagi mereka?' Kemudian Allah menurunkan ayat ini." (Kitab Tafsir Ibnu

Katsir , Juz III, halaman 462)

Dari uraian diatas jelas bahwa amal kebaikan anaknya, berupa istighfar, tidak

memberi manfaat kepada orang tuanya. Jangankan dapat memberi manfaat,

bahkan mau melakukan istighfarnya itu sendiri sudah tidak diperkenankan.

b. Dalam kitab Kasyful Ghummah 'An Jami'il Ummah karangan Imam Abdul

Wahhab Asy-Sya'rani terdapat sebuah hadis:

Nabi Saw. bersabda: "Sedekah dan puasa dapat memberi manfaat kepada setiap

orang yang mengaku bertauhid (beriman) kepada Allah, dan matinya dalam

keadaan demikian." (Kitab Kasyful Ghummah 'An Jami'il Ummah, Juz I, halaman

220)

Hadis ini dengan tegas menjelaskan bahwa amal kebaikan orang lain termasuk

anaknya dapat memberi manfaat kepada orang tuanya yang sudah meninggal

dengan syarat orang tuanya itu ketika meninggal bukan dalam keadaan kufur.

c. Dalam kitab hadis Nailul Authar karangan Imam Asy-Syaukani terdapat sebuah

riwayat:

Dari Abdullah bin 'Amr, bahwa 'Ash bin Wail telah bernazar pada masa Jahiliyah

akan menyembelih 100 unta, dan Hisyam bin 'Ash telah memotong bagiannya 50

unta, 'Amr (Ayah Abdullah) bertanya kepada Nabi Saw. tentang hal itu, maka

Nabi pun bersabda: "Adapun bapakmu jika ia mengaku bertauhid (beriman) , lalu

kamu berpuasa dan bersedekah untuk dia, niscaya memberi manfaat bagi

bapakmu." (Riwayat Imam Ahmad; kitab Nailul Authar , Juz IV, halaman 140)

Hadis ini dapat pula kita baca dalam kitab Adz-dzakhiratuts- Tsaminah Li Ahlil

Istiqamah pada halaman 57.

Imam Asy-Syaukani mengomentari hadis ini, antara lain sebagai berikut:

Pada zaman Jahiliyah ada seorang yang bernama 'Ash bin Wail bernadzar akan

menyembelih 100 ekor unta. Sebelum melaksanakan nazarnya, ia keburu

meninggal. 'Ash bin Wail tersebut mempunyai dua orang anak, keduanya laki-

laki; yang pertama bernama Hisyam, sedangkan yang kedua namanya 'Amr

(bapaknya Abdullah yang meriwayatkan hadis diatas). Kemudian kedua anaknya

itu berunding dan sepakat akan melaksanakan nazar bapaknya, yakni akan

menyembelih 100 ekor unta, masing-masing akan menyembelih separonya, yaitu

50 ekor unta. Hisyam saudara 'Amr, telah melaksanakannya, sedangkan 'Amr,

sebelum melaksanakannya bertanya dulu kepada Rasulullah, apakah yang

demikian itu akan memberi manfaat terhadap orang tuanya yang meninggal

dalam keadaan kufur? Mendengar pertanyaan itu Rasulullah menjawab, "Karena

bapakmu mati dalam keadaan kufur, itulah yang menjadi penghalang sampainya

amal kebaikanmu kepadanya. Seandainya ia mati dalam keadaan bertauhid,

niscaya amal kebaikanmu itu akan memberi manfaat baginya." (Kitab Nailul

Authar , Juz IV, halaman 141)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa amal kebaikan seorang muslin yang

ditujukan untuk orang tuanya yang bukan beragama Islam, tidak akan memberi

manfaat karena terhalang oleh kekufurannya.


Published with Blogger-droid v2.0.1

Hukumnya Membaca Diatas Kuburan

Tersebut dalam kitab Sunan Abu Dawud sebuah hadis berikut ini:

Dari Ma'qil bin Yasar, ia berkata, Nabi Saw. telah bersabda: "Bacalah surat

Yaasiin untuk orang yang mati di antara kamu." (Riwayat Imam Abu Dawud; kitab

Sunan Abu Dawud , Juz III, halaman 191)

Imam Abu Dawud telah memberikan judul hadis ini dengan Babul qira- ati 'indal

mayyiti , artinya: Bab "Membaca Al-Qur 'an Dekat Orang Mati". Sehubungan

dengan hadis tersebut, seorang ulama besar yang bernama Imam Muhammad

bin Ali Asy-Syaukani berkata:

Hadis ini derajatnya hasan. Tidak ada bedanya antara bacaan Yaasin dari jamaah

yang hadir dekat orang mati atau di atas kuburnya dengan membaca seluruh

ayat Al- Qur'an, atau sebagiannya bagi orang mati, di masjid atau di rumah . (Kitab

Adz-Dzakhiratuts Tsaminah , halaman 43)

Lebih gamblang lagi Imam Nawawi dalam kitabnya Al- Adzkar berkata:

Imam Syafii dan sahabat-sahabatnya telah berkata, "Sunat hukumnya bagi (kaum

muslimin) membaca sebagian ayat Al-Qur 'an di depan kuburan (Mayat) ."

Mereka juga berkata, "Jika mereka dapat mengkhatamkan Al-Qur 'an seluruhnya,

hal itu baik sekali." (kitab Al-Adzkar , halaman 147)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca Al-Qur 'an dekat kuburan

hukumnya sunat.


Published with Blogger-droid v2.0.1

Dalil- dalil Yang Menunjukkan Wajib Menuntut Ilmu

Banyak dalil yang menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib, baik

yang bersumber dari Al-Qur 'an dan hadis Nabi Saw. maupun dari fatwa ulama,

antara lain sebagai berikut:

1. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur 'an:

"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang

untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama?" (QS. At-

Taubah:122 )

Sekalipun dalam ayat tersebut tidak tampak kata-kata wajibun yang berarti wajib;

atau kata-kata faridhatun yang berarti difardukan, tetapi dalam ayat itu terdapat

fi'il mudhari' yang telah kemasukan lamul amr , yakni lafaz liyatafaqqahuu .

Dalam ilmu Ushul Fiqih ada kaidah yang berbunyi:

"Arti yang pokok dalam amr ialah menunjukkan wajib." (Kitab As-Sullam ,

halaman 13; dan kitab Ushul Fiqh, halaman 31)

Dengan demikian, ayat diatas mengandung arti bahwa menuntut ilmu itu

hukumnya wajib.

2. Rasulullah Saw., bersabda:

"Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam" (Riwayat Ibnu Majah, Al-

Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

Hadis tersebut sepengetahuan kami terdapat dalam beberapa kitab hadis berikut

ini:

1. Sunan Ibnu Majah , Juz I, halaman 98, karya Imam Ibnu Majah Al-Qazwini .

2. Mukhtarul Ahaditsin Nabawiyah , halaman 93, karya Sayid Ahmad Al-Hasyimi .

3. Al-Jami 'ush Shaghir , Juz I, halaman 194, karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi .

4. As-Sirajul Munir , Juz II, halaman 416, karya Syekh Ali Al-Azizi .

5. At-Targhib wat-Tarhib , Juz I, halaman 96, karya Al- Hafizh Al-Mundziri

Perlu kami tambahkan bahwa dalam kitab-kitab hadis yang telah kami

kemukakan di atas tidak terdapat tambahan lafaz wa muslimatin setelah lafaz 'ala

kulli muslimin.

Bahkan dalam kitab-kitab Tasawuf dan Irsyad pun yang menyitir hadis tersebut

antara lain:

Ihya Ulumuddin , Juz I, halaman 9, karya besar Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali

Tanbihul Ghafilin, halaman 115, karya Imam As-Samarqandi

Irsyadul 'Ibad , halaman 7, karya Syekh Zainuddin Al-Malibari

Kami tidak menemukan tambahan wa muslimatin sebagaimana sering terdengar

dari khotbah para mubalig dan para khatib. Mereka selalu menambahkan lafaz

wa muslimatin yang artinya "menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki- laki dan

muslim perempuan."

Dalam kitab Ta'limul Muta'allim karya Syekh Az-Zarnuji , halaman 4, termaktub

hadis Nabi itu sebagai berikut:

"Rasulullah Saw. bersabda: Menuntut ilmu itu merupakan kewajiban atas setiap

muslim dan muslimah."

Seorang ulama ahli hadis dari Madinah, Imam Abdul Hasan Muhammad bin

Abdul Hadi, ketika mengomentari Hadis Riwayat Imam Ibnu Majah dan lain- lain

dari Anas bin Malik tersebut dalam kitabnya Hasyiyah Sunan Ibnu Majah

menyebutkan:

"Sabda Nabi Saw. atas setiap muslim, artinya orang muslim yang telah akil balig,

untuk mengecualikan orang muslim yang belum akil balig, yaitu anak kecil dan

orang gila; dan yang dimaksud dengan kata-kata 'muslim' dalam hadis itu ialah

orang (yang beragama Islam) , maka mencakup kepada laki- laki dan

perempuan." (Kitab Hasyiyah Sunan Ibnu Majah, Juz I, halaman 98- 99)

Selanjutnya pada juz I, halaman 99 dalam kitab tersebut beliau mengutip ucapan

seorang kritikus hadis Imam As-Sakhawi:

"Imam As-Sakhawi dalam kitabnya Al-Maqashid berkata: Ada sebagian

pengarang kitab yang menambahkan lafaz "Wamuslimatin" di akhir hadis ini,

padahal tidak terdapat dalam beberapa thariq (jalan) riwayat hadis, sekalipun

benar kalau ditinjau dari segi makna."

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa lafaz wamuslimatin dalam hadis itu

bukanlah ucapan Nabi Saw., melainkan hanya tambahan dari pengarang kitab.

Jadi menuntut ilmu itu hukumnya wajib, berdasarkan Hadis Nabi Saw. diatas

yang berarti: "Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam yang akil

balig, baik laki- laki maupun perempuan."

3. As-Sayid 'Alawi bin Ahmad As-Saqaf telah berfatwa:

"Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwa yang paling wajib dan utama dalam

masalah yang difardhukan ialah ilmu, dan yang paling besar dosanya dalam

masalah pelanggaran yang diharamkan ialah kebodohan, dan kebodohan yang

paling sesat ialah berbuat bodoh terhadap Allah, yaitu kufur" (Illajul Amradlir

Radiyyah, halaman 9)

Berdasarkan firman Allah dan sabda Nabi serta fatwa ulama tersebut, jelaslah

bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib. Berdosalah umat Islam yang tidak

mau menuntut ilmu.

Diakhir pembahasan masalah ini akan kami ungkapkan ucapan seorang ulama

besar, Imam Syafii (Rahimahullah), yaitu:

"Imam Syafii (Rahimahullahu Ta'ala) berkata, "Barang siapa yang tidak cinta

terhadap ilmu, maka tidak ada kebaikan padanya; dan janganlah di antara kamu

dengannya terjalin hubungan intim dan tidak perlu kenal dengannya, sebab orang

yang tidak mau belajar ilmu, tentu ia tidak akan mengetahui cara-cara beribadah

dan tidak akan melaksanakan ibadah sesuai dengan ketentuan-ketentuannya .

Seandainya ada seseorang yang beribadah kepada Allah Swt. seperti ibadahnya

para malaikat di langit, tetapi tanpa dilandasi dengan ilmu, maka ia termasuk

orang-orang yang merugi." (Dikutip dari kitab 'Ilajul Amradlir Radiyyah, hamisy

kitab 'Fawaidul Makkiyyah', halaman 14- 15)

Diambil dari buku "Umat Bertanya Ulama Menjawab" tulisan dari KH.Drs .Ahmad

Dimyathi Badruzzaman, dosen Fakultas Dakwah STIDA Al-Hamidiyah


Published with Blogger-droid v2.0.1

Masuk Surga Dengan Rahmat Atau Dengan Amal 。。。?

Mengenai masalah ini, terjadi Ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama

disebabkan adanya dua dalil, yaitu Al-Qur 'an dan Hadis yang secara sepintas

kelihatannya bertentangan.

Menurut zhahir nash Al-Qur 'an , bahwa seseorang masuk surga karena amal

ibadahnya. Hal ini dapat kita temukan pada beberapa ayat dalam Al-Qur 'an,

antara lain:

Masuklah kamu ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (QS

An-Nahl :32 )

Itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang telah kamu

kerjakan." (QS Al-A 'raaf:43 )

Menurut zhahir nash Hadis Nabi Saw., bahwa amal ibadah itu tidak dapat

memasukkan seseorang ke dalam surga, bahkan tidak pula menjauhkan

seseorang dari azab api neraka, melainkan karena rahmat Allah semata.

Dalam kitab Shahih Muslim terdapat hadis yang menyebutkan:

Dari jabir, ia berkata: saya pernah mendengar Nabi Saw. bersabda: "Amal saleh

seseotang diantara kamu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga dan tidak

dapat menjauhkannya dari azab api neraka dan tidak pula aku, kecuali dengan

rahmat Allah. " (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)

Dalam riwayat lain bunyinya begini:

Dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda: "Amal saleh

seseorang diantara kamu sekali-kali tidak dapat memasukkannya ke dalam

surga." Mereka (para sahabat) bertanya, "Hai Rasulullah, tidak pula engkau?"

Rasulullah menjawab, "Tidak pula aku kecuali bila Allah melimpahkan karunia

dan rahmat-Nya kepadaku." (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II,

halaman 528)

Mengenai hadis yang menyatakan bahwa seseorang masuk surga bukan karena

amalnya, tetapi rahmat Allah dan karuia- Nya, kemi telah menemukan dalam

kitab Shahih Muslim, lebih dari empat buah hadis banyaknya.

Sebenarnya bila dalil- dalil Al-Qur 'an dan Hadis-hadis Nabi tersebut dianalisis

agak mendalam, tidaklah terdapat pertentangan (ta'arudh ), melainkan dapat kita

kompromikan.

Untuk lebih jelasnya perhatikan komentar dua tokoh ulama. Yang satu terkenal

sebagai pakar dalam bidang tafsir, sedangkan yang kedua terkenal pakar dalam

bidang Fikih dan Hadis, yaitu:

1. Imam Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki , dalam kitab tafsirnya Ash-Shawi ; ketika

mengompromikan kedua dalil tersebut, beliau berkata:

Jika engkau berkata, telah terdapat keterangan dalam sebuah hadis bahwa

Rasulullah Saw. telah bersabda: "Seseorang sekali-kali tidak masuk surga dengan

sebab amalnya." Rasulullah ditanya, "Dan tidak pula engkau, hai Rasulullah?"

Rasulullah menjawab, "Dan aku pun tidak, kecuali Allah melimpahkan rahmat-

Nya."

Lalu Imam Ash-Shawi menjawab, "Bahwasanya amal yang tersebut dalam ayat

Al-Qur 'an itu ialah amal yang disertai dengan fadhal (karunia Allah), sedangkan

amal yang dimaksud dalam hadis Nabi itu ialah amal yang tidak disertai karunia

Allah. "( Tafsir Shawi II:75 )

2. Imam Muhyiddin An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim; ketika

mengompromikan kedua dalik tersebut diatas beliau menjelaskan:

Dan dalam kenyataan hadis-hadis ini ada petunjuk bagi ahli haq, bahwasanya

seseorang tidak berhak mendapat pahala dan surga karena amal ibadahnya.

Adapun firman Allah Ta'ala: "Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa

yang telah kamu kerjakan," dan "Itulah surga yang diwariskan kepadamu

disebabkan apa yang telah kamu kerjakan," dan seumpama keduanya dari

beberapa ayat Al-Qur 'an yang menunjukkan bahwasanya amal ibadah itu dapat

memasukkan ke dalam surga, maka firman Allah itu tidak bertentangan dengan

beberapa hadis ini.

Akan tetapi, ayat-ayat itu berarti bahwasanya masuknya seseorang ke dalam

surga karena amal ibadahnya, kemudian mendapat taufik untuk melakukan amal

ibadah itu dan mendapat hidayah untuk ikhlas dalam ibadah sehingga diterima di

sisi Allah, adalah berkat rahmat Allah dan karunia-Nya . (Kitab Syarah Shahih

Muslim, juz XVII, halaman 160- 161)

Jadi tidak benar kalau ada seorang khatib dalam khotbah Jum'atnya itu berkata

bahwa seseorang itu masuk surga karena rahmat Allah Swt. semata, sebab tidak

sesuai dengan bunyi nash ayat-ayat Al-Qur 'an.

Begitu pula tidak tepat kalau ada seorang mubalig dalam pidatonya berkata

bahwa seseorang masuk surga karena amal ibadahnya semata sebab menyalahi

bunyi nash Hadis-hadis Nabi Saw. yang sahih.

Yang benar ialah seseorang masuk surga berkat amal ibadahnya dan dengan

adanya rahmat Allah serta karunia-Nya ; ia diberi taufik untuk beramal dan diberi

hidayah agar ia ikhlas dalam beramal.

Diambil dari buku "Umat Bertanya Ulama Menjawab" tulisan dari KH.Drs .Ahmad

Dimyathi Badruzzaman, dosen Fakultas Dakwah STIDA Al-Hamidiyah


Published with Blogger-droid v2.0.1

Senin, November 28, 2011

6 Tips Dalam Belajar Agama

6 Tips Dalam Belajar Agama

SESUNGGUHNYA HAL PALING BERHARGA UNTUK DIWARISKAN

BERDASARKAN KESEPAKATAN PENDUDUK BUMI ADALAH ILMU. DAN YANG

DIMAKSUD DENGAN ILMU DISINI ADALAH ILMU SYAR’I (YAITU ILMU AGAMA)

YANG DAPAT MENDEKATKAN SEORANG HAMBA KEPADA RABBNYA

TA’ALA . SESUNGGUHNYA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

BERSABDA :

“SESUNGGUHNYA PARA ‘ULAMA ADALAH PEWARIS PARA NABI.

SESUNGGUNGGUHNYA PARA NABI ITU TIDAKLAH MEWARISKAN DINAR

ATAUPUN DIRHAM. HANYALAH PARA NABI ITU MEWARISKAN AL- ILMU.

BARANGSIAPA YANG MENGAMBILNYA, BERARTI IA TELAH MENGAMBIL

JUMLAH YANG BANYAK.” [DIRIWAYATKAN DARI SHAHABAT ABU AD-DARDA’

RADHIYALLAH ‘ANHU , HR. ABU DAWUD DAN AT- TIRMIDZI]

SEORANG HAMBA TIDAK MENGETAHUI APA YANG DICINTAI ALLAH DAN

DIRIDHOINYA KECUALI MELALUI JALAN PARA RASUL, UNTUK ITU NABI

SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM MENGANJURKAN UNTUK MENUNTUT

ILMU. BELIAU BERSABDA :

“BARANG SIAPA MENITÍ JALAN UNTUK MENUNTUT ILMU, NISCAYA ALLAH

MEMUDAHKANNYA JALAN MENUJU SYURGA.”

ORANG YANG MENUNTUT ILMU SYAR’I YANG DAPAT MENDEKATKANNYA

KEPADA ALLAH ADALAH ORANG YANG MEMPUNYAI CITA-CITA TINGGI, TIDAK

PEDULI DENGAN HAL YANG REMEH. AKAN TETAPI, MENUNTUT ILMU TIDAK

AKAN DIPEROLEH SESEORANG MELAINKAN APABILA TELAH TERKUMPUL

PADANYA BEBERAPA SIFAT YANG TELAH DISEBUTKAN PARA ULAMA.

SIFAT-SIFAT ITU DIANTARANYA IALAH:

1. KECERDASAN

ILMU TIDAK DIBERIKAN KEPADA ORANG BODOH.DAN DIANTARA TANDA-

TANDA KECERDASAN PENUNTUT ILMU YAITU MEMULAI HAL YANG KECIL

SEBELUM YANG BESAR. SEBAGAIMANA DISEBUTKAN BUKHARI PADA FIRMAN

ALLAH :

“…AKAN TETAPI (DIA BERKATA): “HENDAKLAH KAMU MENJADI ORANG-

ORANG RABBANI.”( AL IMRAN : 79)

YANG DIMAKSUD RABBANI ADALAH ORANG YANG MENGAJARKAN DARI HAL

YANG KECIL SEBELUM HAL YANG BESAR (KECERDASAN DALAM MENUNTUT

ILMU MELIPUTI ADAB MENUNTUT ILMU DENGAN MEMULAI BELAJAR SECARA

BERTAHAP, DARI YANG KECIL DAN UTAMA MENUJU KE YANG BESAR DAN

HAL-HAL YANG MENJADI CABANG ILMU POKOKNYA, RED). DIA MULAI DARI

APA YANG BERSIFAT FARDLU ‘AIN BAGINYA, MAKA IA MULAI DENGAN

TAUHID. WAJIB BAGI PENUNTUT ILMU MEMPUNYAI KECERDASAN, KARENA

KECERDASAN INI AKAN MEMBERINYA MANFAAT DALAM MENDAPATKAN

ILMU.

2. BERSUNGGUH- SUNGGUH

SUATU HAL YANG PALING BESAR YANG BANYAK DIPERHATIKAN OLEH

PENUNTUT ILMU ADALAH WAKTU. WAKTU MERUPAKAN UMUR. MAKA

ULAMA KITA –SEMOGA ALLAH MERAHMATI MEREKA- ADALAH ORANG YANG

PALING PERHATIAN DALAM MASALAH WAKTU.

SEORANG IMAM TERPERCAYA ABU MUHAMMAD ABDURRAHMAN BIN ABI

HATIM AR ROZI BERKATA : ”KAMI MEMASUKI MESIR DAN MENETAP SELAMA

TUJUH BULAN. KAMI TIDAK PERNAH MERASAKAN KUAH. PADA SIANG HARI

KAMI BELAJAR KEPADA SYEIKH (GURU), DAN PADA MALAM HARINYA KAMI

MENYALIN MATERI”. KEMUDIAN DIA BERKATA, ”LALU KAMI PERGI UNTUK

MENGIKUTI PELAJARAN SALAH SATU SYEIKH, KETIKA SAMPAI DI SANA KAMI

MENDAPATI SYEIKH SEDANG SAKIT. LALU KAMI HENDAK MAKAN DAN

MEMBELI IKAN. SETELAH ITU KAMI MEMBAWANYA KE RUMAH TERSEBUT

DAN TERNYATA SUDAH JADWALNYA SYEIKH YANG LAIN UNTUK MENGAJAR.

LALU KAMI TINGGALKAN IKAN TERSEBUT DAN KAMI BERANGKAT.” SETELAH

SELESAI PELAJARAN, DIA BERKATA : ”KAMI TIDAK SEMPAT MEMANASKANNYA

SEHINGGA KAMI MEMAKANNYA DALAM KEADAAN MENTAH.” HAL INI

MENUNJUKKAN PERHATIAN MEREKA YANG BESAR TERHADAP WAKTU.

3. MERASA MEMBUTUHKAN

MESKIPUN ENGKAU TELAH MEMPEROLEH ILMU, JANGAN MENGIRA BAHWA

DIRIMU BERADA DI ATAS SEGALANYA. MERASA MEMBUTUHKAN ADALAH

HAL YANG PENTING BAGI PENUNTUT ILMU DENGAN SELALU MERASA

BAHWA DIA BELUM MENCAPAI SESUATU. IMAM BUKHORI, SEORANG ULAMA

BESAR MENCERITAKAN TENTANG MURIDNYA IMAM TIRMIDZI.

BETAPA INDAHNYA PERKATAAN SUFYAN ATS TSAURI : SESEORANG TIDAK

AKAN MULIA SAMPAI MENGAMBIL ILMU DARI ORANG YANG LEBIH PANDAI

DARINYA DAN DARI ORANG YANG SEMISALNYA DAN YANG BERADA DI

BAWAHNYA.”

MERASA MEMBUTUHKAN BAGI SEORANG PENUNTUT ILMU ITU SANGAT

PENTING. DASARNYA ADALAH TAWADLU DAN MENJAGA JIWA.

4. GHURBAH (MENGASINGKAN DIRI )

GHURBAH DI SINI MEMPUNYAI DUA MAKNA:

-     MELAKUKAN PERJALANAN JAUH UNTUK MENUNTUT ILMU.YAITU KAMU

BEPERGIAN DAN MENINGGGALKAN KELUARGA DAN TEMPAT TINGGALMU

UNTUK MENUNTUT ILMU. PERJALANAN INI MERUPAKAN SESUATU

KEBANGGAAN PARA ULAMA TERDAHULU TERUTAMA ULAMA HADITS.

APAKAH DI ANTARA KITA SAAT INI ADA YANG MEMILIKI KEINGINAN YANG

KUAT MESKI BERADA DI KEJAUHAN KETIKA MENDENGAR HADITS,

”BARANGSIAPA YANG MENGATAKAN LAILAHA ILLALLAH MUHAMMAD

RASULULLAH, DIBUKAKAN BAGINYA KEDELAPAN PINTU SURGA.”

-     TIDAK BERKUMPUL DENGAN MANUSIA, (KECUALI HANYA BERKUMPUL

DENGAN SESAMA PENUNTUT ILMU, RED). YAITU SESUNGGUHNYA TEMAN-

TEMANMU YANG BERSAMAMU DALAM MENGHABISKAN WAKTU ADALAH

PARA PENUNTUT ILMU. SEHINGGA ENGKAU MERASA ASING JIKA BERADA DI

SUATU TEMPAT YANG PENDUDUKNYA BUKAN PENUNTUT ILMU.

5. BIMBINGAN GURU

MENGAMBIL ILMU DARI PARA GURU (SYEIKH / USTADZ) MEMBERIMU 3

FAEDAH :

-     MEMPERSINGKAT WAKTU.KITAB YANG BIASA ENGKAU BACA DALAM

WAKTU SATU BULAN,MAKA DENGAN BIMBINGAN GURU DAPAT DIRINGKAS

HANYA DALAM WAKTU SATU PEKAN SAJA DENGAN RINGKASAN YANG BAIK.

-    MELURUSKAN PEMAHAMAN YANG KELIRU

-    MENGAJARKAN ADAB.

MAKA MERENDAHLAH KAMU DI HADAPAN GURU MESKIPUN ENGKAU

MEMILIKI ILMU YANG TIDAK DIMILIKINYA. BETAPA INDAHNYA APA YANG

DIKATAKAN OLEH MUJAHID BIN JABR RAHIMAHULLAH, ”TIDAK AKAN

MEMPEROLEH ILMU DUA GOLONGAN, ORANG YANG MALU DAN ORANG

YANG TAKABBUR.”

6. WAKTU YANG LAMA

MENUNTUT ILMU ITU DALAM WAKTU YANG LAMA MERUPAKAN HAL YANG

SANGAT PENTING BAGI PENUNTUT ILMU. PENUNTUT ILMU ITU TIDAK

BOLEH TERBURU- BURU DAN MERASA CUKUP DENGAN SEDIKIT DARI APA

YANG SUDAH DIPELAJARINYA. DAN TIDAK BOLEH MERASA CUKUP DENGAN

MEMBACA BUKU SAJA. MAKA WAJIB BAGINYA UNTUK MENUNTUT ILMU

SEPANJANG UMUR DAN WAKTU.

Sumber : Ringkasan ceramah Kaifa Athlubul Ilma,oleh Syaikh Abu Ishaq Al

Huwainy di http:/ /www.alheweny .org/new/ play.php ?catsmktba= 696

seperti dikutip http:// www.direktori- islam.com/ 2009/08 /6- tips-meraih-

ilmu/


Published with Blogger-droid v2.0.1