Rabu, Agustus 08, 2012

PAHALA DI BALIK KACA


Oleh Gus Rochim 

A
da sebuah anekdot yang tidak begitu lucu, tetapi mungkin relevan untuk diungkapkan. Syahdan di akhirat nanti, ketika umat manusia dipanggil satu persatu oleh Allah swt, Hakim Sang Maha Adil, untuk menerima pahala amal perbuatannya selama hidup di dunia, banyak di antara mereka yang tidak mendapat panggilan, di antaranya Louis Pasteur (penemu virus anti rabies) dan Thomas A. Edison (penemu bola lampu listrik). Merasa tidak mendapat panggilan, akhirnya keduanya bersepakat untuk menghadap langsung kepada Allah swt. seraya mengajukan pertanyaan yang bernada protes.

“Wahai Tuhan, Hakim Yang Maha Adil. Mengapa kami tidak mendapat panggilan untuk menerima imbalan atas amal-amal kebajikan kami?” tanya Pasteur. “Apakah jasa-jasa dan karya-karya kami yang sangat besar manfaatnya bagi kehidupan manusia tidak layak pahala di sisimu?” imbuh Edison.

“Wahai Malaikat, bawalah keduanya ke gudang pahala dan perlihatkanlah kepada mereka pahala mereka!”, perintah Allah swt. Lalu keduanya dibawa oleh malaikat ke suatu tempat penyimpanan pahala, kemudian ditunjukkan kepada mereka pahala mereka masing-masing. Melihat betapa besar pahala yang disediakan atas jasa dan karya mereka, keduanya terkagum-kagum, melompat kegirangan dan akhirnya jatuh pingsan karena kecapaian. Setelah siuman, lalu keduanya berkata kepada malaikat: “Wahai malaikat. Apakah betul pahala yang terpajang dalam lemari kaca yang sangat panjang tiada bertepi ini adalah imbalan atas jasa-jasa kami?”, tanya mereka untuk lebih meyakinkan dirinya. “Ya”, jawab malaikat. “Kalau demikian berikanlah kepada kami sekarang”, Lalu sang malaikat berkata: “Apakah anda berdua membawa kunci lemari anda masing-masing?”. Mendapat pertanyaan demikian, keduanya saling berpandangan dan merasa kebingungan, malaikat menjawab: “Bila demikian anda tidak memiliki ‘kunci’ berupa iman sebagai pembuka lemari tersebut, maka anda hanya berhak sebatas pandangan atas pahala tersebut dan tidak berhak untuk menikmatinya”. Mendapat jawaban demikian, keduanya berlalu dengan wajah sendu, penuh penyesalan.

Ini sebuah anekdot yang tentu saja masih sangat perlu dipertimbangkan dan tidak bermaksud mengklaim posisi kedua tokoh tersebut yang diilustrasikan, apakah menjadi penghuni surga atau neraka, karena itu adalah urusan Tuhan. Akan tetapi melalui lelucon tersebut, ada pesan yang ingin kita tangkap, adalah :
1. Atas nama keadilan Tuhan, bahwa setiap amal perbuatan hamba yang baik maupun yang buruk, yang kecil maupun yang besar, yang zahir maupun yang batin, akan mendapatkan ganjaran dari Allah swt. tanpa memandang latar belakang keyakinan dari motivasi perbuatan hamba. Allah swt. berfirman di dalam al-Qur’an QS. al-Zalzalah (99): 6-8

يومئذ يصدر الناس اشتاتا ليروا اعمالهم، فمن يعمل مثقال ذرّة خيرا يره ومن يعمل مثقال ذرّة شرّا يره.
Terjemahnya:
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan perbuatan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji sawi pun niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan walau seberat biji sawi pun niscaya mereka akan melihat (balasan)-Nya”.

Hal yang senada terapat dalam QS. Ali ‘Imrân (3): 30, dan QS. al-Kahfi (18): 49.
2. Iman adalah syarat mutlak dalam beramal. Nilai sebuah amal saleh adalah sangat ditentukan oleh iman. Ketiadaan iman menyebabkan kesia-siaan dalam beramal.
Di dalam al-Qur’an surah Ibrâhim (14): 18 Allah swt. berfirman:

مثل الذين كفروا بربّهم اعمالهم  كرماد اشتدت به الريح فى يوم عاصف لايقدرون مما كسبوا على شيئ ذلك هو الضلال البعيد.

Terjemahnya :
Orang-orang kafir terhadap Tuhannya, perbuatan-perbuatan mereka adalah laksana debu ditiup angin dengan kencang pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil apa-apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”.

Hal yang senada terdapat dalam QS. al-Nûr (24): 39 yang menyamakan perbuatan orang-orang kafir laksana fatamorgana:

والذين كفروآ اعمالهم كسراب بقيعة يحسبه الظمان ماء حتّى إذا جآءه لم يجده شيئا ووجد الله عنده فوافه حسابه والله سريع الحساب. 

Terjemahnya:
“Dan orang-orang kafir, perbuatan-perbuatan mereka laksana fatamorgana di tengah-tengah tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi ketika didatangi air itu, dia tidak mendapati apa-apa. Dan didapatinya ketetapan Allah di sisinya, kemudian Allah menyempurnakan perhitungannya dengan cukup, dan Allah maha cepat perhitungannya.”

Dari keterangan ayat di atas, dapat dipahami bahwa amal perbuatan orang-orang kafir atau yang tidak memiliki iman kendatipun secara lahiriyah tampak menemukan dan mengagumkan, tetap tidak mempunyai makna di hari kemudian.
3. Selain iman, rasa keikhlasan yang menjadi penentu bagi diterimanya amal. Dalam pengertian bahwa setiap amal perbuatan harus disandarkan semata-mata untuk memperoleh pengakuan dan keridhaan dari Allah swt. dalam al-Qur’an surah al-Bayyinah (98): 5 disebutkan

ومآ أمر إلا ليعبد الله مخلصين له الدّين . . .

Terjemahnya :
Tidaklah mereka diperintahkan, kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan keikhlasan kepada-Nya”.

Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa suatu amal kebajikan untuk dapat sampai kepada Allah harus memiliki dua dimensi kebaikan, yaitu dimensi kebaikan fi’lî, (nilai kebaikan yang dikandung oleh amal itu sendiri) dan dimensi kebaikan fâ’ilî (nilai kebaikan yang berhubungan dengan pelaku perbuatan). Artinya, bahwa betapapun besarnya amal kebajikan tetapi tidak dilakukan dalam bingkai keimanan dan kering dari nila keikhlasan, maka realitas keakhiratannya kelak tidak lebih dari barang pajangan di dalam lemari kaca (etalase) yang kehilangan kunci.

Wallau A’lam bi al-Sawâb.

Menolak Syariat Menua Laknat


Oleh Gus Rochim

ان احمدلله نحمده ونستعينه ونستفره ونعوذباالله من شرور انفسنا ومنسيئات اعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلامادي له واشهدان لااله الاالله وحده لاشريك له واشهدان محمد عبده ورسوله اما بعد
 احمدللهsegala puji bagi Allah swt. Tuhan semua sekalian alam yang telah menganugrahkan kepada kita  begitu banyak nikmat, terutama nikmat iman dan islam. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah Muhammad Saw. Keluarganya, para sahabat serta orang-orang yang tetap istiqamah dengan iman dan Islam sampai akhir nanti. Amin.
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.

Sebagaimana telah dimaklumi, aqidah Islam merupakan pemikiran yang paling mendasar yang melahirkan syariat Islam. Dengan kata lain merupakan cabang dari aqidah Islam yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Upaya pemisahan syariat  Islam dari aqidah (sekularisasi) sama saja memisahkan batang pohon dari akarnya; tidak akan dapat menghasilkan buah (manfaat), sebab memisahkan keduanya berarti menghilangkan pengaruhnya dan mencabut fungsinya.

Hilangnya pengaruh syariat Islam tidak mungkin terjadi sekiranya aqidah Islam dipahami secara benar. Seorang muslim yang memahami aqidah Islam secara benar tentu tidak akan terdorong untuk menciptakan syariat yang dilahirkan dari aqidah Islam dibangun di atas landasan keimanan kepada Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Karenanya ia akan meyakini pula bahwa Allah Yang Maha Pencipta pasti mengetahui semua yang diciptakan-Nya; mengetahui mana yang layak bagi manusia dan mana yang tidak.

Aqidah Islam adalah aqidah yang bersifat manusiawi, demikian pula syariatnya, kedua layak bagi manusia; tanpa memandang warna kulit ras atau unsur perbedaan lainnya; juga tanpa memandang ruang dan waktu. Islam telah memberikan jawaban bagi setiap kebutuhan fisik dan naluri manusia. Islam telah memberikan solusi atas setiap problem yang dihadapi manusia sebagai pribadi ataupun bagian dari kelompok dan masyarakat, sebab Allah swt. berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri" (QS. An-Nahl:89)

Di masa lalu, dikalangan kaum muslim maupun non muslim, kenyataan bahwa negara merupakan bagian dari Islam dan Islam terdiri dari aqidah dan syariat adalah hal yang masyhur. Disamping itu, Islam telah menentukan hubungan luar negeri dengan negara-negara lain di atas landasan dakwah Islam dan jihad fi sabilillah. Islam membangun realitas tersebut sembari menetapkan target-targetnya, serta menyeberluaskannya ke seluruh penjuru dunia, sehingga Islam seluruhnya hanya milik Allah.

Ikhwanul muslim dan muslimat yang dirahmati Allah…
Islam telah mewajibkan kepada kita kaum muslim untuk mengambil aqidah sekaligus syariatnya; tidak boleh keluar dari keduanya. Islam juga telah memerintahkan kaum muslim untuk mengatur kehidupan mereka dan mewariskannya dengan azas aqidah Islam. Bukan didasarkan pada perkembangan tempat, atupun zaman. Pada saat kaum muslim hendak menerapkan Islam, mereka tidak perlu mendasarkannya pada adat dan tradisi masa lalu, yang telah berlangsung, atau yang sedang berpengaruh terhadap syariat Islam. Sebaliknya mereka harus berusaha untuk menerapkan hukum-hukum Islam di atas landasan, لااله الاالله محمدرسول الله yang bermakna tidak ada yang layak ditaati selain diri-Nya.

Pada saat ini, kaum muslim sampai pada kondisi yang sangat buruk di dalam pemahaman Islam dan penerapannya, serta tidak berdaya dihadapan propaganda berat dengan idiologi kapitalisnya yang rusak, yang ingin menguasai dunia atas nama globalisasi dengan pemperketat Undang-Undang internasional.
Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah…
Sesudah selayaknya kita sebagai orang muslim menyakini bahwa syariat Islam merupakan rahmat bagi manusia dan seluruh alam karena itu tidak ada alasan apapun untuk melakukan sekularisasi atau pemisahan aqidah dari seyariatnya, karena Allah swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya’:107)
Rahmat dalam ayat di atas tidak berkaitan langsung dengan Muhammad saw. sebagai seorang manusia, tetapi berhubungan erat dengan posisinya sebagai rasul Allah pembawa syariat yang memang paling unggul dibanding dengan aturan-aturan apapun yang ada di dunia.
Artinya pengagungan kaum muslim terhadap pribadi Muhammad tidak akan mendatangkan berkah apa-apa juga tidak akan menjadikan agama Islam mengungguli agama-agama/idiologi-idiologi lain. Jika pada saat yang sama mereka mencampakkan syariat yang dibawakannya. Allah swt berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi". (QS. Al-Fath:28)

Dengan demikian, rahmat bagi seluruh alam akan tetap terwujud dalam relitas kehidupan kendati Nabi Muhammad saw telah lama wafat; tentu saja jika seluruh risalah yang dibawanya diterapkan dalam realitas kehidupan.
Sebaliknya, rahmat bagi seluruh alam itu tidak akan pernah muncul menakala kaum muslim tidak menerapkan syariat Islam yang bersumber pada al-Qur'an dan as-Sunnah. Karena itu upaya menutupi, menghambat dan menentang penerapan syariat Islam pada hekikatnya adalah menutup diri dari rahmat Allah. Lebih dari itu, menolak syariat pasti akan memuai laknat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bi ash sawab.

سبحانك اللهم ربناوبحمدك واشهدان لااله الاانت ونستغرك واتوب عليك, سبحان ربك رب العزة عمايصفون وسلام علىالمرسلين وانحمدلله رب العلمين

SAMBUTLAH KEMATIAN DENGAN ZUHUD


Oleh Gus Rochim
      لحمد لله, الحمد لله الذى شرف المؤمنين بشريف نور الايمان, ووعدخم بدخول الجنة خالدين فيها والحور والوالدين. الشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له شهادة افوز بها فى دار الايمان. واشهد ان محمد عبده ورسوله الوسيلة العظم فى نيل الغفران, صلى الله على سيدنا محمد وعلى عاله وصحبه السابقين بالايمان وسلم تسليما كثيرا اقبلوا دين الاسلام فانه حق غيره صلال وكفران. واجتهدوا فى طلب كما له يفعل الاوام واجتناب المناهو والطبيان (اما بعد)
             Saudara sekalian untuk senantiasa lebih meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt. dan marilah kita bersama-sama memanjatkan puja dan puji syukur kita kehadirat Allah Swt. yang menimpahkan beribu-ribu nikmat kepada kita diantaranya nikmat kesehatan iman dan Islam, sehingga kita dapat berkumpul di mesjid ini guna melaksanakan ibadah mingguan kita yaitu shalat jum’at, dalam keadaan sehat-sehat wal-afiat. Shalawat dan salam tak bosan bosannya kita sanjungkan kepangkuan seorang hamba Allah yang terpilih baginda Rasululla Muhammad saw.
             Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap jiwa mengalami kematian tiap detik, jam, menit, hari, bulan dan tahun. Seperti kata para ahli biologi bahwa sel-sel tubuh kita tiap detiknya mengalami kematian dan digantikan oleh sel lainnya yang baru. Namun tiap sel yang baru itu jumlahnya belum tentu sama atau bahkan lebih banyak yang mati. Sebab setiap sel setiap hari energinya semakin berkurang, otomatis jiwa dan tubuh kita mengalami kemunduran, dan mendekati kematian (ajal/maut), demikian kata para ahli biologi. Maka benar firman Allah Swt. yang berbunyi:

كل نفس ذا ئقة الموت

Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian.
             Ketika setiap sel tubuh kita mati, artinya kita telah mengalami kematian kecil. Kematian kecil ini merupakan sarana dan latihan untuk menuju kematian besar, yakni pencabutan nyawa manusia oleh malaikan Israil atas izin Allah Swt. sang pencipta segalanya.

وجاءت سكرة الموت بالحق ذالك ماكنت منه ثحيد

“Datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, itulah yang kamu selalu lari dari padanya”. (Qaaf: 19)
             Alangkah indahnya, jika setiap sel tubuh kita yang mati itu adalah sel yang beramal shaleh, atau kita dalam keadaan khusnul khatimah. Dan tentu sangat malang, jika sel yang mati itu, kita dalam keadaan berbuat jahat, atau dalam keadaan su’ul khatimah. Kalau yang terjadi demikian, berarti kita telah menumpuk deposito dosa, dan siksa kubur itulah yang kita terima itu sudah pasti. Naudzu billahi min zalik.
             Seperti kita ketahui, bahwa saat kita menghadap Allah swt. didepan mahkamah-Nya, kita disertai oleh malaikat, yakni malaikat pengiring dan penyaksi amal-amal perbuatan kita didunia. Allah Swt. berfirman dalam surat al-Qaaf ayat 21:

وجاءت كل نفس معها ساءق وسهيد

“Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia malaikat pengiring dan malaikat penyaksi”.

Itulah peristiwa kematian yang kita hadapi.
             Setiap orang yang berdosa akan tampak baginya amalan-amalan buruk yang pernah dilakukannya di dunia kala itu. Al Alamah Sayyid Abdullah Haddad pernah mengisahkan kondisi mereka yaitu bahwa para pemakan riba, perutnya akan mengelembung sehingga mereka sebentar terjatuh dan sebentar berhenti, saking beratnya beban itu. Para pesina atau pelacur akan membesar kemaluannya sehingga menyapu tanah. Para pemabuk ketika dibangkutkan mereka masih memegang gelas-gelasnya, para pendusta, pengumpat dan pengaduh domba serta tukang fitnah lidah mereka akan menjulur sampai kedada. Orang-orang yang menolak (tidak mengeluarkan) zakat akan dibawah keliling bersama ular-ular yang besar sebagai perwujudan dari harta mereka yang tidak ditunaikan. Sedang orang-orang sombong angkuh akan dibangkitkan seperti semut, lalu mereka diinjak-injak oleh orang-orang jahat maupun orang-orang baik, dan tidak ada alasan bagi mremereka untuk menyelamatkan diri. Inilah makna firman Allah SWT dalam surat Arahman ayat 41 :

يعر المجرمون بسيمهم فيؤحذ بالنواصى والاقدام

“orang-orang yang berdsa dikenal dengan tanda-tandanya alu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.”
             Maksud dari pada ayat ini adalah pada hari hisab nanti tidak lagi didengar alasan-alasan dan udsur-udsur yang mereka temukan.

             Kemudian bagaimana kita menyiapkan diri atas peristiwa yang tak bisa kita hindari dan pasti terjadi itu. Rasulullah SAW memberi nasehat kepada kita melalui sabdanya agar terhindar dari mala petaka ygngeri itu. Sabda beliau tersebut yang artinya ;

“orang-orang pertama dari umatku ini akan selamat dengan suhud dan kuatnya keyakinan. Adapun yang terakhir dari mereka adalah mereka akan binasa dengan berlebih-lebihan cintanya dengan dunia dan panjangnya angan-angan dalam hidupnya.
             Olehnya itu hadirin sekalian janganlah berlebih-lebihan dalam hal dunia sebab kita akan meninggalkannya dan akan menuju ketempat yang berikutnya yaitu kuburan atau alam barzah. Kalau didunia selalu emngingat tempat itu ketimbang dunia, maka kita akan selamat di dalamnya. Sabda Rasulullah SAW.

أعمل الدنياك كانك تعيث ابدا وعمل الاخرتك كانك تموت غدا

“Kerjakanlah duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan kerjakanlah akhiratmua seakan-akan kamu akan mati besok”.
             Panjangnya angan-angan yang disebutkan dalam hadits di atas para ulama salaf berkata semakin panjang angan-angan seseorang untukmenguasai dunia makin rusaklah amalan-amalannya, jadi dengan memanjangkan angan-angan itu seseorang akan semakin lupa dengan taubat, ia semakin jauh dari mengingat mati, malas berbuat amal saleh. Hal itu terjadi kaena ia telah bersenang-senang dengan sahwat aau keinginannya dan sampailah ia ditemui ajalnya dan orang-orangpun akan berkata  Inna lillahi wainna ilaihi raajiuun.
             Hujjatul Islam Imam al-Gazali dalam kitabnya al-Bidayah berkata “ketahuilah bahwa maut itu tidak akan menjemput anda pada waktu atau keadaan tertentu, akan tetapi maut pasti menjemput anda pada waktu yang tidak diketahui.” Olehnya itu menyediakan diri untuk maut itu lebih baik dan utama daripada menyediakan diri untuk dunia.
             Akhirnya saya mengajak untuk selalu bersifat zuhud dalam kehidupan ini, perbanyaklah bekal kebajikan ditempat perhentian kita ini yaitu dunia agar selamat tentram dan bahagia ditempat perhentian berikutnya Amin yaa rabbal alamin

 بارك الله لى ولكم فى القران ونفعنى واياكم بما فيه من الاياة وذكرالحكيم وتقبل منى ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم.

Selasa, Agustus 07, 2012

HANYYA SSATTU JJALLAN MENUJJU ALLLLAH




 عزّّّزوجلّلّّلّّّ
Syaikh Abdul Malik Bin Ahmad Ramdhani

Sumber: almanhaj.or.id yang menyalinnya dari
Majalah As-Sunnah Ed 08 Thn VII_1424H/2003M

Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu- bahwa
jalan yang menjamin nikmat Islam bagimu hanya
satu, tidak bercabang. Allah telah menetapkan
keberuntungan hanya untuk satu golongan saja. Allah
عزّوجلّّ berfirman:
أُوْلاَئِكَ حِّزْبُ اّللهِ أَّلآَإِنَّ حِّزْبَ اّللهِ ىُّمُ اّلْمُفْلِحُونَّ
“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang
beruntung.” (QS. Al Mujadalah:22)
Dan Dia (Allah) menetapkan kemenangan hanya
untuk mereka pula. Allah berfirman:
وَمَن يّ تََ وَلَّ اّللهَ وَّرَسُولَوُ وَّالَّذِينَ ءَّامَنُوا فَّإِنَّ حِّزْبَ اّللهِ ىُّمُ اّلْغَالِبُونَّ
“Dan barangsiapa mengambil Allah, RasulNya dan
orang-orang yang beriman menjadi penolongnya,

maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah
yang pasti menang.” (QS. Al Maidah:56)
Bagaimanapun, jika anda mencari dalam kitab
Allah dan Sunnah Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم , maka anda
tidak akan menemukan di dalamnya (dalil, Red.)
pengkotak-kotakan umat kepada jama‟ah-jama‟ah,
partai-partai atau golongan-golongan, kecuali
perbuatan itu dicela dan tercela. Allah عزّوجلّّ berfirman:
وَلاَتَكُونُوا مِّنَ اّلْمُشْرِكِينَ .ّ مِّنَ اّلَّذِينَ فَّ رَّقُوا دِّينَ هُمْ وَّكَانُوا شِّيَ عًاّّ
كُلُّ حِّزْبٍ بَِِّا لَّدَيْهِمْ فَّّرِحُونَّ
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang
memecah-belah agama mereka, dan mereka
menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan
merasa bangga dengan apa yang ada pada
golongan mereka.” (QS. Ar Rum:31-32)

Bagaimana mungkin Allah mengakui dan
melegitimasi perpecahan ummat, setelah Dia
memelihara mereka dengan tali (agama)Nya? Lagi
pula, Allah telah melepaskan tanggung jawab NabiNya
-Muhammad صلي اّلله عّليو وّسلم - atas umatnya, manakala
mereka berpecah-belah, dan (dia) mengancam
mereka atas perpecahan tersebut. Allah عزّوجلّّ
berfirman:
إِنَّ اّلَّذِينَ فَّ رَّقُوا دِّينَ هُمْ وَّكَانُوا شِّيَ عًا لَّسْتَ مِّنْ هُمْ فِِّ شَّىْءٍّ
إِنَََّّآأَمْرُىُمْ إِّلََ اّللهِ ثَُُّّ يّ نَُبِئُ هُم بَِِّاكَّانُوا يّ فَْعَلُونَّ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah
agamanya dan mereka (terpecah) menjadi
beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung
jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan
mereka hanyalah (terserah) kepada Allah,
kemudian Allah akan memberitahukan kepada
mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al
An‟am:159)

Dari Muawiyah bin Abu Sufyan رضي اّلله عّنو berkata,
ketahuilah, bahwasanya Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم pernah
berdiri di tengah-tengah kami, lalu bersabda:
أَلَا إِّنَّ مَّنْ قَّ بْ لَكُمْ مِّنْ أَّىْلِ اّلْكِتَابِ اّفْ تَ رَقُوا عَّلَى ثِّنْتَ يْنِ وَّسَبْعِينَّ
مِلَّةً وَّإِنَّ ىَّذِهِ اّلْمِلَّةَ سَّتَ فْتََِقُ عَّلَى ثَّلََثٍ وَّسَبْعِينَ ثِّنْتَانِ وَّسَبْ عُونَّ
فِِ اّلنَّارِ وَّوَاحِدَةٌ فِِّ اّلَْْنَّةِ وَّىِيَ اّلَْْمَاعَةُّ
“Ketahuilah, bahwasanya Ahlul Kitab sebelum
kalian terpecah menjadi tujuhpuluh dua golongan.
Dan bahwasanya, umat ini akan terpecah menjadi
tujupuluh tiga golongan. Tujuhpuluh dua di neraka,
dan hanya satu yang di surga, yaitu Al Jama‟ah.” 1
1 Diriwayatkan oleh Ahmad 4/102; Abu Dawud no. 4597; Darimi
2/241; Thabrani 19/367, 88-885; Hakim 1/128; dan yang
lainnya. Hadits ini shahih.
Juga dikeluarkan oleh Ahmad 2/332; Abu Dawud no. 4596;
Tirmidzi no. 2642; Ibnu Majah no. 3990; Abu Ya‟la no. 5910,
5978, 6117; Ibnu Hibban 14/6247 dan 15/6731; Hakim 1/6,
128, dan lainnya dari hadits Abu Hurairah, dan Hakim

Mengomentari hadits ini, Amir Ash Shan‟ani رحمو اّلله
berkata,“Penyebutan bilangan pada hadits ini, bukan
untuk menjelaskan banyaknya orang yang binasa.
Akan tetapi, hanya untuk menerangkan luasnya jalanjalan
kesesatan dan cabang-cabang kesesatan, serta
untuk menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu hanya
satu. Hal ini, sama dengan yang telah disebutkan oleh
ulama ahli tafsir berkaitan firman Allah :سبحانو وّ تّعالي
mempunyai beberapa riwayat lain dalam jumlah banyak dari
hadits Anas bin Malik, Abdullah bin Amr bin Al Ash, dan yang
selainnya رضي اّلله عّنهم . Hadits ini dishahihkan oleh Tirmidzi;
Hakim; Adz Dzahabi, dan Al Jazajani dalam kitab Al Abathil
1/302; Al Baghawi dalam Syarh Sunnah 1/213; Asy Syathibi
dalam Al I’tisham 2/698, tahqiq Salim Al Hilali; Ibnu Taimiyah
dalam Majmu’ Fatawa 3/345; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya
4/48; Ibnu Katsir dalam tafsirnya 1/390; Ibnu Hajr dalam
Tarikh Al Kasysyaf, halaman 63; Al Iraqi dalam Al Mughni ‘An
Hamlil Asfar, no. 3240; Al Bushairi dalam Mishbahuz Zujajah,
halaman 4/180; Al Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 203,
dan yang lainnya. Sangat banyak. Sengaja saya sebutkan ini
semua, untuk membuat ahli bid‟ah yang berupaya
melemahkan hadits yang agung ini, menjadi sia-sia –aku ingin
menjadikan mereka bisu. Al Hakim رحمو اّلله berkata tentang hadits
ini: ”Hadits yang agung atau banyak, sebagaimana sebagian
ulama telah menempatkannya dalam hadits-hadits yang
pokok.”

وَأَنَّ ىَّذَا صِّرَاطِي مُّسْتَقِيمًا فَّاتَّبِعُوهُ وَّلاَتَ تَّبِعُوا اّلسُّبُلَ فَّ تَ فَرَّقَ بِّكُمّْ
عَنْ سَّبِيلِوِّ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah
jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari
jalanNya.” (QS. Al An‟am:153)
Pada ayat ini, Allah عزّوجلّّ menggunakan bentuk
jamak pada kata yang menerangkan “jalan-jalan yang
dilarang mengikutinya”, guna menerangkan cabangcabang
dan banyaknya jalan-jalan kesesatan serta
keluasannya. Sedangkan pada kata “jalan petunjuk
dan kebenaran“, Allah سبحانو وّ تّعالي menggunakan bentuk
tunggal. (Ini) dikarena jalan al haq itu hanya satu, dan
tidak berbilang.2
2 Lihat hadits Iftiraqul Ummah Ila Nayyif Sab’ina Firqah,
halaman 67-68

Dari Abdullah bin Mas‟ud رضي اّلله عّنو , ia berkata:
خَطَّ لَّنَا رَّسُولُ اّللَّوِ صَّلَّى اّللَّوُ عَّلَيْوِ وَّسَلَّمَ خَّطِّا ثَُُّّ قَّالَ ىَّذَاّ
سَبِيلُ اّللَّوِ ثَُُّّ خَّطَّ خُّطُوطًا عَّنْ يََِّينِوِ وَّعَنْ شَِِّالِوِ ثَُُّّّ قَّالَ ىَّذِهِّ
سُبُلٌ قَّالَ يَّزِيدُ مُّتَ فَرِّقَةٌ عَّلَىكُّلِّ سَّبِيلٍ مِّنْ هَا شَّيْطَانٌ يَّدْعُو إِّلَيْوِ ثَُُّّّ
قَ رَأَ إِّنَّ ىَّذَا صِّرَاطِي مُّسْتَقِيمًا فَّاتَّبِعُوهُ وَّلَا تَّ تَّبِعُوا اّلسُّبُلَ فَّ تَ فَرَّقَّ
بِكُمْ عَّنْ سَّبِيلِوِّ
“Rasulullah صلي اّلله عّليو وّّسلم membuat sebuah garis lurus
bagi kami, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah,”
kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri
dan kanan garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah
jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada
syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian
beliau membaca:

إِنَّ ىَّذَا صِّرَاطِي مُّسْتَقِيمًا فَّاتَّبِعُوهُ وَّلَا تَّ تَّبِعُوا اّلسُّبُلَ فَّ تَ فَرَّقَ بِّكُمّْ
عَنْ سَّبِيلِوِّ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah
jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari
jalanNya.” (QS. Al An‟am:153)3
Redaksi hadits ini menunjukkan, bahwa jalan
(kebenaran, pent.) itu hanya satu. Imam Ibnul Qayyim
رحمو اّلله berkata,”Dan ini disebabkan, karena jalan yang
mengantarkan (seseorang) kepada Allah سبحانو وّ تّعالي
hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah
mengutus para rasulNya dan menurunkan kitabkitabNya.
Tiada seorangpun yang dapat sampai
kepadaNya, kecuali melalui jalan ini. Seandainya
manusia datang dengan menempuh semua jalan, lalu
3 Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad I/435, dan yang
lainnya.

mendatangi setiap pintu dan meminta agar dibukakan,
niscaya seluruh jalan tertutup dan terkunci buat
mereka; terkecuali melalui jalan yang satu ini. Karena
jalan inilah, yang berhubungan dengan Allah dan bisa
mengantarkan kepadaNya.4
Aku (penyusun) mengatakan: Akan tetapi,
banyaknya liku-liku di jalan ini yang cukup
memberatkan, menyebabkan seseorang menjadi ragu,
lalu meninggalkannya. Dan sesungguhnya kelompokkelompok
yang menyimpang, telah menyelisihi jalan
ini. (Penyebabnya), karena merasa senang dan tenang
pada jalan yang banyak, serta merasa berat untuk
menyendiri. Ingin segera tiba (tergesa-gesa, Red.)
dan takut memikul beban perjalanan yang panjang.
Ibnul Qayyim berkata, “Barangsiapa menganggap jauh
satu jalan ini, maka dia tidak akan mampu
menempuhnya.”
4 At Tafsir Al Qayyim, halaman 14-15

MENGENAL JALAN YANG SATU
(Menyimpulkan) dari pendapat Ibnul Qayyim رحمو اّلله
di atas, maka jelaslah jalan yang dimaksud. Dan jelas,
bahwa jalan yang dimaksud disini, ialah “rukun yang
kedua” dari rukun tauhid. (Yaitu) setelah syahadat
(persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang haq
selain Allah, maka (yang kedua, Red.) persaksian
bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dan (kalimat)
ini, juga menjadi syarat kedua diterimanya suatu amal
ibadah. Karena -sebagaimana sudah diketahuibahwa
amal ibadah tidak akan diterima, kecuali
setelah memenuhi dua syarat; Pertama,
mengikhlaskan agama (ketaatan) karena Allah
semata. Kedua, dalam beribadah hanya dengan
mengikuti (cara yang dicontohkan) Nabi .صلي اّلله عّليو وّسلم
Pada kesempatan ini, saya tidak bermaksud
menjadikan untuk kaidah yang mashur ini sebagai dalil
dalam pembahasan ini. Sebab, tujuan utama bahasan
ini untuk menjelaskan bahwa jalan yang pernah
ditempuh Nabi صلي اّلله عّليو وّسلم , itulah satu-satunya jalan

yang bisa mengantarkan seorang hamba kepada Allah
.عزّوجلّّ
(Pengenalan terhadap jalan ini amat penting, pent);
karena ketidak tahuan terhadap jalan ini, rintanganrintangannya,
serta tidak mengerti maksud dan
tujuannya, hanya akan menghasilkan kepayahan yang
sangat, tanpa bisa mendapatkan manfaat yang
berarti. 5
Tujuan pembahasan ini, juga untuk menjelaskan,
bahwa jalan itu hanya satu. Sehingga tidak boleh
berdusta mengatas-namakan Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم
dengan menda‟wahkan, bahwa jalan menuju Allah عزّوجلّّ
itu (jumlahnya banyak, pent.), sejumlah bilangan
nafas manusia. Atau ungkapan-ungkapan lain, yang
menurut agama Allah عزّوجلّّ –yang datang guna
menyatukan pemeluknya dan bukan untuk memecahbelah
mereka- jelas nyata kebathilannya. Allah
berfirman:
5 Lihat Al Fawa’id, karya Ibnu Qayyim, halaman 223

وَاعْتَصِّمُوا بَِِّبْلِ اّللهِ جََِّيعًا وَّلاَ تَّ فَرَّقُوا وَّاذكُْرُوا نِّعْمَتَ اّللهِ عَّلَيْكُمّْ
إِذْكُّنتُمْ أَّعْدَآءً فَّأَلَّفَ بّ يَْنَ قُّ لُوبِكُمْ فَّأَصْبَحْتُم بِّنِعْمَتِوِ إِّخْوَانًا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai,
dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka
Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah
kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara.”
(QS. Ali Imran:103)
Tali yang menjamin kaum muslimin adalah kitab
Allah عزّوجلّّ , sebagaimana penafsiran para ulama kaum
muslimin. Abdullah bin Mas‟ud رضي اّلله عّنو berkata:

إِنَّ ىَّذَا اّلصِّرَاطَ مُُّْتَضَرٌ تََّْضُرُهُ اّلشَّيَاطِينُ يّ نَُادُونَ يَّا عَّبْدَ اّللَّوِّ
ىَلُمَّ ىَّذَا اّلصِّرَاطُ لِّيَصُدُّوْا عَّنْ سَّبِيْلِ اّللهِ فَّاعْتَصِمُوا بَِِّبْلِ اّللَّوِّ
فَإِنَّ حَّبْلَ اّللَّوِ اّلْقُرْآنُّ
“Sesungguhnya, jalan ini dihadiri para syetan.
Mereka berseru,”Wahai hamba-hamba Allah,
kemarilah. Ini adalah jalan (yang benar).” (Mereka
melakukan ini, pent.) untuk menghalang-halangi
manusia dari jalan Allah عزّوجلّّ . Maka, berpegang
taguhlah kalian dengan hablullah. Sesungguhnya,
hablullah itu adalah Kitabullah (Al Qur‟an).” 6
Ungkapan Ibnu Mas‟ud رضي اّلله عّنو ini, mengandung dua
makna yang sangat penting.
6 Diriwayatkan Abu Ubaid dalam Fadhailul Qur’an, halaman 75;
Ad Darimi 2/433; Ibnu Nashr dalam As Sunnah, no 22; Ibnu
Dhurais dalam Fadhailul Qur’an, 74; Ibnu Jarir dalam tafsirnya
no. 7566 (tahqiq Ahmad Asakir); Ath Thabari 9/9031; Al Ajuri
dalam Asy Syari’ah, 16; dan Ibnu Baththah dalam Al Ibanah,
no. 135; dan riwayat ini shahih.

Pertama: Jalan menuju Allah itu hanya satu. Hanya
saja, jalan itu dikelilingi oleh syetan yang ingin
memisahkan manusia dari jalan ini. Sementara itu,
syetan tidak menemukan jalan terbaik untuk
mencerai-beraikan mereka dari jalan ini, kecuali
dengan menda‟wakan, bahwa jalan-jalan itu banyak.
Maka, barangsiapa yang hendak memasukkan suatu
anggapan kepada manusia, bahwa kebenaran (al haq)
itu tidak hanya terbatas pada satu jalan saja, berarti
dia adalah syetan. Dan sungguh Allah berfirman:
فَمَاذَا بّ عَْدَ اّلَْْقِّ إِّلاَّ اّلضَّلََلُّ
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan
kesesatan.” (QS. Yunus:32)
Kedua: Tafsir hablullah (tali Allah عزّوجلّّ ) yang wajib
dipegang teguh oleh kaum muslimin agar tetap
bersatu, ialah kitab Allah, Al Qur‟a Al Karim. Tafsir ini
tidak bertentangan dengan ucapan Abdullah bin
Mas‟ud رضي اّلله عّنو yang berbunyi:

الصِّرَاطُ اّلْمُستَق يْمُ اّلَّذِي تَّ رَكَنَا عَّلَيْوِ رَّسُوّْلُ اّللهِّ
“Jalan yang lurus, yaitu jalan yang kami lalui ketika
kami ditinggal oleh Rasulullah.” 7
Nabi صلي اّلله عّليو وّسلم telah mewariskan dua pusaka
untuk mereka, yaitu Al Qur‟an dan Sunnah,
sebagaimana sabda beliau :صلي اّلله عّليو وّسلم
تَ رَكْتُ فِّيكُمّْ مَّا إِّنْ تَََّسَّكْتُمْ بِّوِ لَّنْ تَّضِلُّوا بّ عَْدِي أَّبَدًاكِتَابَ اّللَّوِّ
وَسُنَّتِّْ
Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian
berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan
sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan
Sunnahku.. 8
7 Atsar shahih, dikeluarkan Ath Thabari, 10 no. 10454; Al
Baihaqi dalam Asy Syu’ab 4/88-89; Ibnu Wadhdhah dalam Al
Bida’, no. 76
8 Diriwayatkan Imam Malik dalam Al Muwaththa’ 2/899; Ibnu
Nashr dalam As Sunnah, no. 68; Al Hakim 1/93; dan

Ditinjau dari ekstensinya, Sunnah Rasulullah صلي اّلله
عليو وّسلم itu sama dengan kitab Allah sebagai wahyu, dan
Sunnah itu sebagai penjelas bagi Kitab Allah .عزّوجلّّ
Bahkan, makhluk terbaik yang menafsirkan Al Qur‟an
adalah Rasulullah, sebagaimana firman Allah :عزّوجلّّ
وَأَّنزَلْنَآ إِّلَيْكَ اّلذِّكْرَ لِّتُبَ يِّنَ لِّلنَّاسِ مَّان زُِّلَ إِّلَيْهِمّْ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar
kamu menerangkan kepada umat manusia apa
yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An
Nahl:44)
Aisyah رضي اّلله عّنها berkata:
كَانَ خُّلُقُوُ اّلقُرْآنَّ
“Akhlaq beliau adalah Al Qur‟an.” 9
dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam komentar beliau
tentang kitab Misykatul Mashabih, no. 186
9 Riwayat Ahmad 6/91, 163; dan Muslim 746

Oleh karena itu pula, jika timbul perpecahan dan
perselisihan diantara mereka, Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم
memerintahkan umatnya agar berpegang teguh
dengan sunnahnya صلي اّلله عّليو وّسلم . Beliau صلي اّلله عّليو وّسلم
bersada:
فَإِنَّوُ مَّنْ يَّعِشْ مِّنْكُمْ بّ عَْدِي فَّسَيَ رَى اّخْتِلََفًاكَّثِيرًا فَّ عَلَيْكُمْ بِّسُنَّتِّ
وَسُنَّةِ اّلُْْلَفَاءِ اّلْمَهْدِيِّينَ اّلرَّاشِدِينَ تَََّسَّكُوا بَِِّا وَّعَضُّوا عَّلَيْ هَاّ
بِالنَّ وَاجِذِ وَّإِيَّاكُمْ وَّمُُْدَثَاتِ اّلُّْمُورِ فَّإِنَّكُّلَّ مُُّْدَثَةٍ بِّدْعَةٌّ
“Dan sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian
yang hidup setelahku, dia akan melihat banyak
perselisihan, maka wajib atas kalian untuk
berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah
para khalifah yang diberi hidayah yang mereka di
atas petunjuk. Berpegang teguhlah padanya, dan
gigitlah ia dengan gigi geraham kalian (peganglah
sekuat-kuatnya, Red.), serta jauhilah perkaraperkara
yang baru (dalam agama); karena

sesungguhnya, setiap perkara yang baru (yang
diada-adakan dalam agama) adalah bid‟ah.”10
Ketika menjelaskan sebab bersatunya salaf pada
aqidah yang sama, Imam Ibnu Baththah رحمو اّلله
mengatakan,“Generasi pertama, semuanya masih
tetap pada aqidah ini. Hati dan mazdhab mereka
menyatu. Kitab Allah sebagai jaminan yang
memelihara keutuhan mereka. Sunnah Rasulullah صلي اّلله
عليو وّسلم sebagai pedoman. Mereka tidak menuruti
pendapat atau rasio mereka, (dan) tidak
menyandarkan pemahamannya kepada hawa nafsu.
Kondisi umat pada saat itu terus demikian. Hati-hati
mereka terpelihara oleh penjagaan Allah عزّوجلّّ , dan
berkat „InayahNya jiwa-jiwa mereka terkendali dari
hawa nafsu. (Lihat kitab Al Ibanah atau Al Qadar, I)
10 Hadits shahih diriwayatkan Abu Daud, no. 4607; At Tirmidzi,
no. 2676; dan yang lainnya.

Apa yang dikatakan Ibnu Baththah رحمو اّلله itu benar ;
karena agama Allah itu hanya satu (dan) tidak ada
pertentangan. Allah berfirman:
وَلَوْكَّانَ مِّنْ عِّندِ غَّيْرِ اّللهِ لَّوَجَدُوا فِّيوِ اّخْتِلََفاًكَّثِيرًا
“Kalau sekiranya Al Qur‟an itu bukan dari sisi Allah,
tentulah mereka mendapat pertentangan yang
banyak di dalamnya.” (QS. An Nisa‟:82)
Adapun yang kami dakwahkan ini adalah jalan
yang paling jelas, paling terang, paling kaya (dengan
dalil) dan paling sempurna. Dari Al Irbadh bin Sariyah
رضي اّلله عّنو , ia berkata, Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم bersabda:
لَقَدْ تّ رََكْتُكُمْ عَّلَى اّلْبَ يْضَاءِ لَّيْ لُهَاكَّنَ هَارِىَا لَّا يَّزِيغُ عَّنْ هَا بّ عَْدِيّ
إِلَّا ىَّالِكٌّ
“Sesungguhnya, aku telah meninggalkan kalian di
atas jalan, seperti jalan yang sangat putih,

malamnya sama dengan siangnya. Tiada yang
menyimpang sesudahku dari jalan itu, kecuali
orang (itu) akan binasa.” 11
Sehingga, jika ada seseorang yang berupaya untuk
“menyempurnakan atau menghiasinya” dengan
sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah صلي اّلله
عليو وّسلم dan tidak pula oleh para sahabat رضي اّلله عّنهم , berarti
perbuatan itu hanyalah sebuah upaya untuk
menyimpangkan mereka kepada jalan-jalan
kesesatan, bahkan menyimpangkan ke lembahlembah
kebinasaan. Inilah yang dinamakan oleh
Rasulullah :صلي اّلله عّليو وّسلم
البِدْعَةُ اّلضَّلََلَةُّ
“Bid‟ah adalah kesesatan”
11 Riwayat Ahmad 4/126; Ibnu Majah, no. 5 dan 43; Ibnu Abi
Ashim dalam kitabnya As Sunnah, no. 48-49; Al Hakim 1/96;
dan dishahihkan oleh Al Albani dalam kitab Fi Dhalalil Jannah
Fi Takhrij Sunnah.

Oleh karena itu, para salafush shalih sangat
mengingkari orang-orang yang menambah-nambah
dalam (masalah) agama, atau mengotori agama ini
dengan pendapat rasionya. Umar bin Khathab رضي اّلله عّنو
menuturkan:
إِيَّاكُمْ وَّ مَُُّالَسَةَ أَّصْحَابِ اّلرَّأْيِ فَّإِن هَُّمْ أَّعْدَاءُ اّلسُّنَّةِ أُّعِيَتْ هُمُّ
السُّنَّةُ أَّنْ يََّْفَظُوْىَا وَّنَسَوْا )ّوفِ رّواية( وَّتَ فَلَّتَتْ عَّلَيْهِمُ اّلَحَادِيْثُّ
أَنْ يّ عَُوْدَىَا وَّسُئِلُوْا عَّمَّا لّاَ يّ عَْلَمُوْنَ فَّاسْتَحْيَ وْا أَّنْ يّ قَُوْلُوْا لّاَ نّ عَْلَمُّ
فَأَفْ تَ وْا بِّرَأْيِهِمْ فَّضَلُّوْا فَّأَضَلُّوْاكَّثِيْ رًا وَّ ضَّلُّوْا عَّنْ سَّوَاءِ اّلسَّبِيْلِ .ّّ
إِنَّ نَّبِيَّكُمْ لََّْ يّ قَْبِضْوُ اّللهُ حَّتََّّ أَّغْنَاهُ بِّالْوَحْيِ عَّنِ اّلرَّأْيِ وَّلَوْكَانَّ
الرَّأْيُ أَّوْلََ مِّّنَ اّلسُّنَّةِ لَّكَانَ بَّاطِنُ اّلُْْفَّيْنِ أَّوْلََ بِّالْمَسْحِ مِّنّْ
ظَاىِرِهَِِا

“Janganlah kalian duduk dengan orang-orang yang
berpegang dengan rasio mereka; karena
sesungguhnya, mereka itu musuh Sunnah
Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم . Mereka tidak mampu
memelihara Sunnah. Mereka lupa (dalam sebuah
riwayat, mereka diserang) hadits-hadits Rasulullah
صلي اّلله عّليو وّسلم , sehingga mereka tidak mampu
memahaminya. Mereka ditanya tentang masalah
yang tidak mereka ketahui, akan tetapi mereka
malu untuk mengatakan,“Kami tidak mengetahui,”
lalu mereka berfatwa dengan rasionya, sehingga
mereka tersesat dan menyesatkan orang banyak.
Mereka tersesat dari jalan yang lurus.
Sesungguhnya Nabi kalian tidaklah diwafatkan
Allah, kecuali setelah Allah mencukupkannya
dengan wahyu dari rasio. Dan seandainya rasio itu
lebih utama daripada Sunnah, niscaya mengusap
bagian bawah kedua sepatu (khuf), itu lebih utama
daripada mengusap bagian atasnya.” 12
12 Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Zuamanain dalam Ushulus Sunnah,

Yang demikian itu, karena agama ini dibangun
diatas dasar ittiba‟ (mengikuti wahyu), bukan dengan
ikhtira‟ (mengada-ada). Sedangkan rasio, biasanya
tercela; karena banyak urusan agama yang tidak bisa
dijangkau oleh akal semata. Apalagi akal manusia
memiliki perbedaan dalam menjangkau pemahaman
dan faktor-faktor yang mempengaruhinya; meskipun
terkadang pendapat itu patut mendapatkan pujian.13
Abdullah bin Mas‟ud رضي اّلله عّنو berkata:
اِتَّبِعُوْا وَّلاَ تَّ بْتَدِعُوْا فَّ قَدْكُّفِيْتُمْ عَّلَيْكُمْ بِّالْعَتِيْقِّ
no 8; Al Lalika‟i dalam Syarh Ushulul I’tiqad, no. 201; Al Khatib
Al Bagdadi dalam Faqih wal Mutafaqqih, no. 476-480; Ibnu
Abdil Baar dalam Jami’ Bayanul Ilmi Wa Fadluhu, no. 2001,
2003, 2005; Ibnu Hazm dalam Al Ihkam, 4/42-43; Al Baihaqi
dalam Al Madkhal, 312; Qiwamus Sunnah dalam Al Hujjah,
1/205, pada sebagian sanadnya ada yang lemah dan ada pula
yang putus. Namun demikian, sebagian sanad dapat
menguatkan sebagian yang lain. Oleh karena itu, Ibnu Qayyim
mengatakan,“Sanad-sanad ucapan Ibnu Umar ini sangat
shahih.” Lihat I’lamul Muwaqi’ien, 1/44
13 Lihat perinciannya dalam I‟lamul Muwaqi‟ien, 1/63 karya Ibnu
Qayyim

“Ikutilah dan jangan mengada-ada, karena
sesungguhnya (ajaran syari‟at Islam ini) telah
mencukupi kalian, hendaklah kalian berpegang
dengan tuntunan agama yang sediakala.” 14
Abdullah bin Umar رضي اّلله عّنهما berkata.
كُلُّ بِّدْعَةٍ ضَّلََلَةٍ وَّإِنْ رَّآىَا اّلنَّاسُ حَّسَنَةًّ
“Semua bid‟ah itu adalah sesat, meskipun manusia
memandangnya baik.”15
Dan selama pembahasan kami tentang “pengaruh
perbuatan bid‟ah” yang menghalangi seseorang dalam
14 Diriwayatkan oleh Waki‟ dalam Az Zuhd, no. 315; Abdur
Razaq, no. 20465; Abu Khaitsamah dalam Al Ilmu, no. 45;
Ahmad dalam Az Zuhd, halaman 62; Ad Darimi 1/69; Ibnu
Wadhdhah dalam Al Bida’, no. 60; Ibnu Nashr dalam As
Sunnah, no. 78 dan 85; Thabrani 9/8770 dan 8845; Ibnu
Baththah dalam Al Ibanah/Al Iman 168-169, 174-175 dan Al
Madkhal, no. 387-388; Al Khatib dalam Al Faqih Wal
Mutafaqih, 1/43; dan dishahihkan oleh Al Albani dalam
ta‟liqnya atas kitab Al Ilmu, karya Abu Khaitsamah
15 Ibnu Nashr dalam As Sunnah, 82; Al Lalika‟i dalam Syarh
Ushulul I’tiqad, no. 126; Al Baihaqi dalam Al Madkhal, no. 191,
dan sanadnya shahih.

mencari jalan yang lurus, maka saya akan
menyebutkan sebuah ucapan Abdullah bin Abbas
perihal masalah ini, yang menunjukkan luasnya ilmu
para sahabat.
Dari Utsman bin Hadhir, ia berkata: Aku datang
menjumpai Abdullah bin Abbas رضي اّلله عّنهما . Lalu aku
berkata kepadanya, أوصيني (berilah wasiat kepadaku);
diapun berkata:
ن عََمْ عَّلَيْكَ بِّتَ قْوَى اّللهِ وَّ اّلإِسْتِ قَِِامَةِ وَّ اّلَثَرِ وَّ لّاَّ تَّ بْتَدِعّْ
“Ya, bertaqwalah engkau kepada Allah,
istiqamahlah dan (berpeganglah pada) atsar (jejak
para salaf, pent). Ikutilah, dan jangan mengadaada
dalam urusan agama.16
16 Diriwayatkan Ad Darimi, I/53; Ibnu Wadhdah dalam Al Bida’,
no. 61; Ibnu Nashr, no. 83; Ibnu Baththah dalam Al Ibanah,
no. 200 dan 206; Al Khatib dalam Al Faqih Wal Mutafaqqih,
I/173, dari dua jalan yang saling menguatkan.

Cobalah anda perhatikan ucapan ini. Dia
memadukan dua hal. Pertama, taqwa kepada Allah,
yang maknanya sama dengan keikhlasan. Sebab ia
dipadukan dengan perintah untuk ber-ittiba‟ (perintah
untuk mengikuti tuntunan Nabi, pent.). Kedua, al ittiba‟,
yang maknanya mengikuti jalan yang lurus,
sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Selanjutnya, beliau mengingatkan agar waspada
terhadap yang bertolak belakang dengan kedua hal di
atas, yaitu bid‟ah. Demikianlah mayoritas ucapan para
salaf, meskipun singkat, namun selalu mencakup dan
membentengi (seseorang).
Merupakan perangai Salafush Shalih, mereka
selalu bersikap tegas dan keras terhadap orang yang
mencari-cari ucapan manusia (para tokoh) untuk
menandingi hukum Rasulullah, setinggi apapun
kedudukan dan martabat tokoh-tokoh tersebut.
Tidak diragukan, bahwasanya beradab dan
memelihara kesopanan terhadap para ulama‟,
mencintai dan mendahulukan mereka atas lainnya,

serta tudingan seseorang terhadap rasionya jika
disejajarkan dengan pendapat-pendapat para ulama;
semua itu perkara yang amat penting. Namun
demikian, hal tersebut merupakan persoalan lain.
Sedangkan mendahulukan wahyu (Al Qur‟an dan As
Sunnah) setelah jelas permasalahannya, juga
merupakan perkara lain.
Urwah berkata kepada Ibnu Abbas, “Celaka
engkau. Engkau telah menyesatkan manusia, karena
memerintahkan untuk melakukan ibadah umrah pada
sepuluh hari ( pertama bulan Dzul Hijjah), padahal
tiada umrah pada hari-hari itu.” Maka Ibnu Abbas رضي اّلله
عنهما berkata, “Wahai Uray17 Tanyakanlah kepada
ibumu.” Urwah berkata, “Bahwasanya Abu Bakar dan
Umar tidak pernah berkata (berpendapat) seperti itu,
padahal mereka benar-benar lebih mengetahui dan
lebih mengikuti Rasulullah daripada engkau.” Maka
dijawab oleh Ibnu Abbas:
17 Nama tasghir ( kecil ) Urwah bin Zubair. Wallahu a’lam, (pent)

مِنْ ىَّهُنَا تّ ؤُْتَ وْنَ نََِّيْئُكُمْ بِّرَسُوْلِ اّللهِ وَّتََِيْئُ وْنَ بِّأَبِِْ بَّكْرٍ وَّعُمَرَّ
Dari sinilah kalian didatangi. Kami membawakan
kepadamu (perkataan) Rasulullah, dan kamu
membawakan (perkataan) Abu Bakar dan Umar.
Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas رضي اّلله عّنهما berkata
kepadanya:
أَهَُِا –ّوَيََْكَّ- آّث رٌَ عِّنْدَكَ أَّمْ مَّا فِِّكِّّتَابِ اّللهِ وَّمَاسَنَّ رَّسُوْلُ اّللهِّ
فِِ أَّصْحَابِوِ وَّأُمَّتِوِّ
Celaka engkau. Apakah mereka berdua (Abu Bakar
dan Umar, pent), lebih engkau dahulukan ataukah
yang tertulis dalam Kitab Allah dan disunahkan
oleh Rasulullah bagi sahabat dan umatnya?
Dalam riwayat lain, ia bertutur:
أُرَاىُمْ سَّيُ هْلَكُوْنَ أَّّقُ وْلُ قَّالَ اّلنَّبِِ وَّي قَُوْلُ نّ هََى أَّب وُْ بَّكْرٍ وَّعُمَرُّ

Kelihatannya mereka akan dibinasakan, aku
katakan “Nabi berkata” sedang mereka berkata
“Abu Bakar dan Umar telah melarangnya”.18
Setelah membawakan ucapan Ibnu Abbas di atas,
Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan,“Dalam
ucapan Ibnu Abbas رضي اّلله عّنهما terdapat isyarat yang
menunjukkan, bahwa seseorang yang telah sampai
padanya dalil, lalu tidak mengambilnya (tidak
mengamalkannya) karena bertaklid kepada imamnya,
maka orang itu wajib diingkari dengan keras karena
sikapnya yang menyelisihi dalil.”19
18 Diriwayatkan Ishaq bin Rahawi (Rahwiyah), sebagaimana
dalam kitab Al Muthallibul ‘Aliyah, no. 1306; Ibnu Abi Syaibah,
4/103, dan dari jalurnya dikeluarkan oleh Thabrani; Al Khatib
dalam Al Faqih Wal Mutafaqqi, 379 – 380 ), Ibnu Abdil Baar
dalam Jami’ihi, no. 2378 dan 2381; dan dishahihkan oleh Ibnu
Hajar dalam Al Muthalib; dan dihasankan oleh Al Haitsami
dalam Al Mujma’, 3/234; juga oleh Ibnu Muflih dalam Al Adab
Asy Syar’iyyah 2/66
19 Lihat pada Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, halaman 338

Beliau juga mengatakan,”Kemungkaran ini,20 telah
merebak luas terutama dari mereka yang menisbatkan
diri kepada ilmu. Mereka telah menancapkan jeratjerat
dalam menghalangi (manusia) dari mengambil Al
Qur‟an dan As Sunnah; menghalangi mereka dari
mengikuti Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم dan menjunjung tinggi
perintah serta larangannya.”
Diantara ucapan mereka, “tidak boleh berdalil
dengan Al Qur‟an dan Sunnah Rasulullah, kecuali
seorang mujtahid, sedangkan ijtihad telah terputus.”
Ada juga yang mengatakan, “orang yang aku taklidi
(ikuti) padanya, lebih mengetahui daripada kamu
tentang hadits, nasikh dan mansukhnya” serta
ucapan-ucapan serupa dengan tujuan akhirnya untuk
meninggalkan ittiba‟ (mengikuti) Rasulullah ,صلي اّلله عّليو وّسلم
yang (beliau) tidak pernah berbicara karena terdorong
hawa nafsu, lalu (mereka) bersandar kepada ucapan
orang-orang yang bisa saja berbuat kesalahan. Ada
20 Yang beliau maksud dengan “kemungkaran”, yaitu
mengesampingkan dalil hanya dikarenakan taqlid kepada
imam (madzab)nya, Pent

juga diantara imam yang menyelisihi dan mencegah
dari perkataan Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم dengan berdalih
“tiada seorang ulama pun, kecuali yang dimilikinya
hanyalah sebagian ilmu, dan tidak semua
(dikuasainya)”.
Maka wajib bagi setiap mukallaf (orang yang telah
terkena beban syari‟at), jika telah sampai kepadanya
dalil Al Qur‟an dan Sunnah Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم dan
telah dipahaminya, untuk berhenti padanya dan
mengamalkannya, meskipun ada yang menyelisihinya,
sebagaimana firman Allah :عزّوجلّّ
اتَّبِعُوا مَّآأُنزِلَ إِّلَيْكُم مِّّن رَّّبِّكُمْ وَّلاَتَ تَّبِعُوا مِّن دُّونِوِ أَّوْلِيَآءَ قَّلِيلًَّ
مَاتَذَكَّرُونَّ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kamu
sekalian dari Rabb-mu dan janganlah kamu
mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat

sedikitlah kamu mengambil pelajaran
(daripadanya).” (QS. Al A‟raf:3)
FirmanNya :عزّوجلّّ
أَوَلََْ يَّكْفِهِمْ أَّنَّآأَنزَلْنَا عَّلَيْكَ اّلْكِتَابَ يّ تُْ لَى عَّلَيْهِمْ إِّنَّ فِِّ ذَّلِكَّ
لَرَحمَْةً وَّذِكْرَى لِّقَوْمٍ يّ ؤُْمِنُونَّ
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka,
bahwasannya Kami telah menurunkan kepadamu
Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia dibacakan kepada
mereka. Sesungguhnya di dalam (Al Qur'an) itu
terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi
orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ankabut:51)
Dan di depan telah disampaikan perihal ijma‟
(kesepakatan) para ulama‟ terhadap yang kami
sampaikan ini, serta keterangan, bahwa muqallid
(orang yang taklid) tidak termasuk orang-orang yang
berilmu. Demikian pula Abu Umar bin Abdil Barr dan

ulama‟ lainnya, telah menceritakan ijma‟ atas masalah
ini.21
Pengagungan kaum salaf terhadap Sunnah
Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم , telah sampai pada tingkatan
menghunuskan pedang kepada orang yang menolak
hadits Rasulullah صلي اّلله عّليو وّسلم , sebagaimana dilakukan
oleh Imam Syafi‟i رحمو اّلله . Beliau رحمو اّلله telah mengadu
kepada Al Qadhi (pemimpin mahkamah syari‟at) Abul
Bakhturi perihal Bisyir Al Marisi.22 Beliau berkata,”Aku
berdialog dengan Al Marisi tentang mengundi,23 Dia
21 Lihat Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, halaman 339- 340
22 Bisyir bin Ghiyats Al Marisi, seorang ahli kalam yang keluar
dari ketaqwaan dan sikap wara‟. Dia berakidah Jahmiyah
(golongan yang mengingkari dan menafi‟kan sifat-sifat Allah).
Dia menyatakan, bahwa Al Qur‟an adalah makhluk ciptaan
Allah. Oleh sebab itu, dikafirkan oleh sejumlah ulama‟, seperti:
Qutaibah bin Sa‟id dan yang lainnya, meninggal tahun 218 H.
Lihat Siyar A’lamin Nubala’, 10 / 199, (Pent)
23 Hal ini mengacu kepada hadits Imran bin Husain.

berkata, “Wahai Abu Abdillah, Al Qur‟an (mengundi)
itu judi,” maka kudatangi Abul Bakhturi, lalu
kukatakan kepadanya,”Aku mendengar Al Marisi
berkata, mengundi itu judi,” Abul Bakhturi
menjawab,”Wahai Abu Abdillah, ajukan seorang saksi
lagi. Aku akan membunuhnya.” Dalam riwayat lain ia
berkata,”Ajukan seorang saksi lagi, niscaya akan
kuangkatnya pada sebatang kayu, lalu kusalibnya.[]”24
أَنَّّ رَّجُلًَّ أَّعْتَقَّ سِّتَّةَّ مََّْلُوكِينَّ لَّوُّ عِّنْدَّ مَّوْتِوِّ لََّّْ يَّكُنّْ لَّوُّ مَّالٌّ غَّيْ رَىُمّْ فَّدَعَا بِِِّمّّْ
رَسُولُّ اّللَّوِّ صَّلَّى اّللَّوُّ عَّلَيْوِّ وَّسَلَّمَّ فَّجَزَّأَىُمّْ أَّثْلََثًا ثَُُّّّ أَّقْ رَعَّ بّ يَْ نَ هُمّْ فَّأَعْتَقَّّ
اثْ نَ يْنِّ وَّأَرَقَّّ أَّرْب عََةًّ وَّقَالَّ لَّوُّ قَّ وْلًاّ شَّدِيدًا
“Bahwasanya seorang lelaki membebaskan enam budaknya
ketika ia dihampiri kematian, ia tidak memiliki harta selain
mereka, maka Rasulullah memanggil mereka dan membagi
menjadi tiga bagian, lalu beliau mengundi diantara mereka,
kemudian beliau memerdekakan dua orang dan yang empat
tetap sebagai budak dan beliau mengeluarkan kata-kata yang
keras terhadap orang.” [HR Muslim, 1668)
24 Diriwayatkan Al Khalal dalam As Sunnah, 1735; Al Khatib
dalam Tarikh Al Baghdad, 7/60, dan sanadnya shahih. Orang
yang mengambil suatu perkara atau mengerjakan suatu
amalan tanpa mengetahui sumber dalilnya.

GINCU, GARAM DAN SUSU




Oleh Gus Rochim

              Ketiga benda tersebut di atas sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, khususnya bagi kaum perempuan. Gincu, sekarang orang menyebutnya lipstik, adalah salah satu jenis kosmetika yang dipergunakan oleh sebahagian kaum perempuan sebagai penghias bibir. Warnanya umumnya merah, atau warna lain yang lebih mencolok dan gampang terlihat. Menurut penuturan perempuan yang sering memakai gincu, rasanya tidak ada. Gincu hanya menempel di bibir pemakainya, tidak mempunyai rasa. Walaupun nampak jelas ketika dipakai akan tetapi sipemakainya sendiri justru tidak dapat melihat bagaimana gincu itu di bibirnya ketika dipandang orang.

              Garam, merupakan pemberi rasa asin terhadap makanan, hasil olahan dari air laut. Harganya murah, akan tetapi sangat menentukan lezat-tidaknya suatu hidangan. Garam ketika digunakan larut bersama makanan. Rasa asinnya baru terasa apabila makanan yang dibumbuhi garam tersebut dicicipi.

              Perempuan ketika berdandan boleh tidak memakai gincu, akan tetapi setiap orang kalau memasak  harus  membumbuhi masakannya dengan garam. Ringkasnya gincu sebenarnya hanya pelengkap, sedangkan garam penentu rasa.

              Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang di antara kita ada yang berbuat dan melakukan aktifitasnya mengambil filsofi dari gincu dan garam! Yang berfilosofi garam, mengutamakan dan mengedepankan aspek formalitas dan popularitas dalam setiap aktifitasnya. Semua yang dia lakukan baik secara pribadi maupun kolektif harus dapat dilihat dan disaksikan oleh orang banyak sekedar untuk memperoleh pengakuan dan atau pujian, kendatipun kemudian hanya sebatas show, tidak dapat memberi manfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang yang melihatnya. Yang penting apa yang dia lakukan dapat dilihat dan disaksikan orang! Celakanya, banyak orang yang justru terbuai oleh warna-warna ‘gincu’ yang ditonjolkan oleh orang.
              Sebaliknya, hanya sedikit di antara kita yang rela memegang filosofi garam. Orang yang memegang filosofi garam, dalam berbuat dan beraktifitas mementingkan manfaat apa yang dilakukan baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Berbuat bagi orang tipe ini tidak harus diketahui oleh orang lain,  bahkan kalau perlu merahasiakan identitas dalam berbuat baik, tetapi yang penting baginya ialah azaz manfaat pada setiap perbuatannya.
  Dalam bahasa agama Islam, orang yang berfilosofi gincu biasa disebut riya’, yaitu sikap mental pamer dan ingin dipuji. Orang seperti ini sangat berbahaya, berbuat hanya menginginkan popularitas dan mengabaikan manfaat dari apa yang diperbuatnya. Allah swt. Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad saw. menegaskan bahwa sikap mental riya merupakan salah satu bentuk syirik:

 ‘’Sesungguhnya yang amat kutakuti dari segala hal atas kalian ialah syirik kecil. Para sahabat bertanya. “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Riya. Allah azza wa jalla akan berkata kepada orang-orang yang riya kelak di hari kiamat: Pergilah kamu sekalian kepada apa yang kamu jadikan bahan riya di dunia. Lihatlah apa yang kamu semua memperoleh balasan dari mereka yang kepadanya kamu memamerkan amalanmu?. Hadis riwayat Ahmad dan al-Baihaki.


              Orang yang berfilosofi garam, dalam istilah agama Islam disebut ikhlas, yaitu seseorang yang senantiasa berbuat berangkat dari motif yang lurus tanpa mengharapkan imbalan dari hasil perbuatannya. Biasanya orang tipe ini ketika berbuat kebajikan selalu berupaya menyembunyikan perbuatannya, paling tidak mereka tidak menonjolkan perbuatannya itu, namu  perbuatan tersebut memberi manfaat baik terhadap dirinya maupun terhadap masyarakat.

              Agama kita menginginkan agar umatnya berperilaku sebagaimana filosofi garam, yaitu tidak menampakkan diri dalam setiap aktifitasnya, tetapi yang lebih penting manfaatnya. Bahkan penilaian Allah terhadap perbuatan kita bukan pada apa yang tampak, melainkan motif yang ada dibalik perbuatan kita itu. Nabi Muhammad saw. dalam hadisnya meyebtukan:

Sesungguhnya Allah swt. tidak menilai terhadap fisik dan penampilanmu, melainkan kepada hati (niat) dan perbuatanmu. Hadis riwayat Imam Muslim.

Dari hadis ini nampak jelas bahwa Allah tidak menilai aspek formalitas pada perbuatan kita, melainkan motif dasar munculnya perbuatan tersebut serta manfaat perbuatan tersebut.
              Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah muak dengan penampilan orang-orang dan sekelompok orang yang sepintas bagai pahlawan, namun kepahlawanannya tidak lebih dari penampilan gincu; terlalu banyak teori, konsep dan program yang dikemukakan sekedar untuk menarik simpati publik namun tidak ada realisasi. Orang berperilaku seperti ini tidak menyadari bahwa formalisasi dan publikasi yang berlebihan tentang ‘kebajikan’ seseorang justru mengaburkan dan menghilangkan rasa (manfaat) dari suatu perbuatan. Hanya sesaat dan tidak memberi rasa apa-apa, dan hanya sedikit orang yang mau berbuat kebajikan tanpa diketahui oleh orang lain.

Filosofi Susu


              Susu, untuk kelompok elit (Ekonominya terliLIT, atau Ekonominya suLIT) masih dipandang sebagai barang elit (mewah). Warnanya putih. Biasanya dicampurkan bersama minuman atau makanan ekstra. Di minuman atau makanan mana saja yang diberi susu, akan tampak warna dan rasa susu itu, sekalipun sedikit.
              Susu mungkin salah satu benda yang mewakili sikap pertengahan antara filosofi gincu dan filosofi garam;  semua orang menyebut susu itu enak! Makanan dan minuman kalau diberi susu rasanya makin nikmat! Kalau bercampur dengan makanan atau jenis minuman ia tidak kehilangan identitasnya, melainkan turut mempengaruhi warna makanan/minuman di mana ia ditambahkan. Itulah susu, selain keberadaannya bisa nampak, juga dapat menambah rasa!
              Alangkah indahnya hidup ini, apabila umat Islam bisa bermental susu; bisa memperlezat kehidupan, mempengaruhi masyarakat dengan warna dan rasanya, minimal mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tanpa harus kehilangan identitas, dan yang paling penting keberadaannya benar-benar dirasakan!
              Al-Qur’an tidak menafikan bahwa mental susu itu memiliki pengaruh positif, yaitu agar dapat diikuti oleh orang lain sekaligus mengajak orang lain gemar melakukan sebagaimana yang telah dilakukannya, walaupun dengan memperlihatkan amalan itu dapat mendekatkan kepada bahaya riya. Oleh sebab itu, Allah swt. memberi pujian terhadap mental garam dan mental susu, dengan mendahulukan mental susu dalam firman-Nya:
Jikalau kamu menampakkan sedekah-sedekahmua, maka itulah yang terbaik. Tetapi jika kamu semua menyembunyikannya dan kamu berikan kepada fakir miskin, maka itu lebih baik bagimu. QS. al-Baqarah (2): 271.
              Agama Islam adalah agama kemanusiaan. Oleh karena itu, semua ketentuan agama yang berbentuk perintah dan larangan semuanya bermuara pada kepentingan manusia. Dengan demikian semua perbuatan kebajikan pun harus dapat memberi manfaat kepada manusia dan bagi kepentingan kemanusiaan. Kita bisa berbuat atas dasar agama tanpa harus memamerkan apatah lagi mempublikasikan perbuatan baik tersebut. Perbuatan kita pun bisa dirasakan oleh orang lain tanpa harus mengetahui siapa yang telah melakukannya.

              Memang ada hal-hal tertentu yang memungkinkan seseorang untuk memperlihatkan (mempublikasikan) perbuatannya, yaitu untuk menjadi contoh dan toladan bagi orang yang menyaksikannya. Bila suatu ketika kita berbuat memperlihatkan perbuatan kita kepada orang lain dengan niat agar menjadi contoh, maka kita telah membuat satu sunnah (tradisi kebaikan). Yang demikian lebih baik ketimbang merahasiakannya. Sehubungan dengan perbuatan kebajikan yang diperlihatkan kepada orang lain dengan maksud agar dijadikan contoh, Nabi Muhammad saw. mengatakan:
Barang siapa yang melakukan suatu sunnah (tradisi perbuatan kebaikan atau keburukan), maka ia akan memperoleh ganjaran (kebaikan atau keburukannya) dan (ganjaan kebaikan atau keburukan) bagi setiap orang yang mengikuti tradisi yang telah diperlihatkannya. Hadis riwayat Muslim.
Wallahu A’lam bi al-Sawâb.

Sumber Khutbah Jumat